Tuesday, March 22, 2005

Terhormat Meski Tanpa Jilbab

Najwa Shihab punya prinsip sendiri tentang jilbab. Bagi dia, hati “berjibab” lebih baik daripada sekadar jilbab kepala.

Profil, Maret 2005

TAK SULIT menjumpai Najwa Shihab. Hampir saban hari dia muncul di stasiun MetroTV. Selama kariernya di televisi itu, yang paling mengharukan saat Nana, sapaan karibnya, melaporkan kondisi Aceh pasca-Tsunami akhir Desember lalu. Awal mula dia memberi laporan, meski tampak tegar tapi akhirnya tak kuasa menahan linangan air mata. Nana menangis.

Saat bertolak ke Aceh, 27 Desember, Nana berniat menggelar talkshow Today’s Dialog di sana. Nana, yang juga co-produser program itu, sebenarnya telah mempersiapkan talkshow lengkap dengan krunya. Tapi, karena keterbatasan sarana, hari pertama Nana melaporkan hasil liputannya cuma via telepon. Laporan langsung lewat satelit baru bisa dilakukannya hari kedua.

Turun dari pesawat rombongan wakil presiden di Blang Bintang, Banda Aceh, Nana belum merasakan atmosfer kematian. Dia mencium bau anyir darah baru setelah sampai di Lambaro, Aceh Besar. Di daerah inilah dia melaporkan kondisi yang dia lihat. Mayat-mayat berserakan. Orang yang masih hidup pun terlihat bingung. Mereka mencari keluarga dan sanak saudara. Nana mengatakan, belum pernah melihat orang sedemikian putus asa. Saat itulah Nana melakukan reportase diiringi tangisan.

Di sana Nana hanya lima hari. Tanggal 31, bersama rombongan wakil presiden dia kembali ke Jakarta. Pekan pertama setelah peristiwa, dia belum mendengar isu kristenisasi. “Isu kristenisasi setelah saya di sini, waktu saya di sana tidak terdengar. Memang ada Worldhelp yang konon mengajak anak-anak keluar Aceh,” ungkap putri kedua Quraish Shihab itu.

Di sana, kata Nana, banyak sekali isu yang berkembang, karena tak ada komando, tak ada pusat informasi yang jelas. Komunikasi lumpuh. Jadi orang gampang sekali diprovokasi oleh berbagai isu. Menurut dia, kalau memang kristenisasi ada itu sangat tercela. Dalam kondisi darurat orang masih sempat mengurusi agama. “Tapi saya percaya, orang Aceh tidak semudah itu berubah keyakinan, hanya karena diberi bantuan,” ujarnya.


LIPUTAN lima hari itu tak sia-sia. Berkat liputannya itu, pada 2 Februari 2005 lalu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya memberi penghargaan PWI Jaya Award. Menurut sekretaris PWI Jaya Akhmad Kusaeni, liputan Nana dan presenter teve-teve lain betul-betul telah membuat Indonesia menangis.

Bukan hanya PWI Jakarta yang menganugerahi Nana, pada Hari Pers Nasional (HPN) yang dilangsungkan di Pekanbaru, Riau 9 Februari lalu, Nana meraih penghargaan HPN Award. PWI pusat menilai, Najwa Shihab adalah wartawan pertama yang memberi informasi tragedi tsunami secara intensif.

Pujian untuk Nana pun meluncur dari pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, Effendy Gazali. Dia menyitir judul film drama komedi terkenal Amerika, Kramer Vs Kramer yang dianalogikannya menjadi “Shihab Vs Shihab”.

Shihab pertama adalah Najwa Shihab, kedua Alwi Shihab, yang masih punya hubungan saudara dengan Nana. “Najwa mengkritik penanganan bencana yang dilakukan pemerintah yang diwakili oleh Menko Kesra Alwi Shihab,” kata Effendy Ghazali. Dalam reportasenya, Najwa menyampaikan bahwa bantuan terlambat dan tak terkoordinasi, sementara mayat-mayat bergelimpangan tidak tertangani.

“Shihab Vs Shihab”, kata Effendy, untuk menggambarkan bagaimana Najwa Shihab sebagai wartawan tetap garang dalam menyuarakan kepentingan publik dan korban tsunami di Aceh.


WANITA kelahiran 16 september 1977 ini hidup dalam keluarga religius. Nana kecil, saat di Makasar, sudah masuk TK Al-Quran. Dia masih ingat betul, kalau melakukan kesalahan, sang guru memukulnya dengan kayu kecil. Sekolah Dasar di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hidayah (1984-1990), lalu SMP Al-Ikhlas, Jeruk Purut, Jakarta Selatan, pada 1990-1993. Aktivitas sampai SMU, dipimpin ibunya, Nana dengan lima orang saudaranya sejak magrib harus ada di rumah. “Jadi berjamaah magrib, ngaji Al-Quran, lalu ratib Haddad bersama. Itu ritual keluarga sampai saya SMU.” Setelah kuliah, karena banyak kegiatan, Nana baru boleh keluar setelah magrib.

Keluarganya memang sangat memprihatikan faktor pendidikan. “Pendekatan pendidikan di keluarga tidak pernah dengan cara-cara yang otoriter. Saya rasa itu sangat mempengaruhi, bagaimana pola didik orang tua ke anak akan mempengaruhi perilaku,” ujarnya.

Pendidikan, bagi keluarga Shihab, adalah nomor wahid, tidak bisa ditawar-tawar. Dulu waktu kelas dua SMU, Nana dapat kesempatan AFS (America Field Service), program pertukaran pelajar ke Amerika. Sempat keluarga menolak karena harus melepas selama setahun anak cewek yang baru usia 16 tahun tinggal di keluarga asuh. “Sempat terjadi perdebatan keluarga. Waktu itu yang paling mendukung ayah saya. Apa pun untuk pendidikan akan diperbolehkan, dalam usia itu pun beliau sudah memberikan kepercayaan, walaupun di sana dia sudah dibekali agama, mereka percaya shalatnya tidak akan ditinggal. Dan alhamdulillah saya bisa menjaga kepercayaan itu,” cerita Nana.

Quraish Shihab, pakar tafsir itu, bagi Nana, adalah sosok bapak yang santai. “Seneng joke-joke Abu Nawas, ketawa-ketawa,” kisahnya. Jadi beliau, kata Nana, membebaskan pilihan kepada anak-anaknya untuk sekolah ke mana saja.

Tidak hanya persoalan pendidikan, kebebasan juga diberikan oleh sang bapak untuk menentukan pasangan hidupnya. “Bahkan saat saya memutuskan untuk nikah muda, 20 tahun, ayah memberi kepercayaan. Bagi beliau yang penting kuliah selesai.” Menjelang pernikahan, kata Nana, keluarga sempat ragu, tapi karena pengalaman kakak yang nikah saat usia 19 tahun akhirnya diizinkan. Tapi sebelum itu mereka sekeluarga umroh dulu. “Di sana ayah bertanya, ‘udah mantep?’ saya jawab, ‘udah’. Ya sudah diizinkan,” tutur Nana.


KENDATI dalam keluarga religius, soal pakai jilbab tak menjadi keharusan. Menurut Nana, kalau orang pakai jilbab itu bagus, kalau tak berjilbab juga tidak apa-apa. “Saya sih seperti itu dan saya percaya itu.”

Karena memang, kata Nana, alasan ayahnya yang lebih penting adalah terhormat. Karena bukan berarti yang berjilbab tidak terhormat dan yang berjilbab sangat terhormat, karena kan masih banyak interpretasi tentang hal itu. Menurut Nana, yang penting tampil terhormat dan banyak cara untuk terhormat selain dengan jilbab. “Tidak pernah ada keharusan untuk berjilbab,” ucapnya.

Dengan cara berpakaian seperti itu, kata Nana, tak pernah ada yang komplain. “Karena mungkin melihat ayah, kalau ditanya orang pendapatnya membolehkan, membebaskan berjilbab atau tidak. Jadi banyak alasan dari ayah saya. Kalau ada yang komplain, paling pas bercanda. Dan saya selalu bilang: ya insyaallah mudah-mudahan suatu saat. Yang pasti hatinya berjilbab kok.”

Nana kagum pada yang pakai jilbab dan menutup aurat. Dia ingin juga pakai jilbab, mungkin suatu saat. “Sampai saat ini saya tidak merasa ada kewajiban atau beban untuk berjilbab,” katanya, “Karena sejauh saya bisa menjalankan kewajiban saya sebagai muslimah tidak masalah berjilbab atau tidak.”

Meski kini ada rekan reporter yang mengenakan jilbab, Nana tidak terpengaruh. Sampai saat ini, dia merasa apa yang dilakukannya sudah berada pada jalur yang benar. Kalau nanti ada hidayah lebih lanjut, atau kemantapan memakai jilbab, tanpa ragu Nana akan memakainya. “Apa yang dilakukan orang kan bukan berarti kita akan terpengaruh. Kalau sekarang ada yang berjilbab kemudian saya ikut. Menurut saya, rugi kalau berjilbab alasannya itu,” ujarnya. [Banani Bahrul-Hassan, Imam Shofwan]

96 Comments:

Anonymous Anonymous said...

hi najwa, moga hidayah datang seiring terbukanya hati anda untuk berjilbab...

7:31 AM  
Anonymous Anonymous said...

Yg diperlukan Indonesia adalah satu bangsa yg berkebangsaan karenanya diperlukan peran perempuan yg berani menyatakan pendapatnya..Najwa you are one of a lady with a leadership.We respect you.

9:39 AM  
Anonymous Anonymous said...

assalamualaikum mba najwa...
wah,,,seneng banget yach bangsa ini punya satu sosok kaya mba najwa.
pintar, kritis, berani, cerdas de el el deh..
tapi alangkah tambah bahagianya lagee klo mba pake jilbab..
hmmm,te o pe be ge te banget dech,,,udah pinter dalam hal dunia pinter juga dalam hal akhirat...
bangga dech punya smart moslemah like you..

10:44 AM  
Anonymous Anonymous said...

assalamualaikum mba najwa...
wah,,,seneng banget yach bangsa ini punya satu sosok kaya mba najwa.
pintar, kritis, berani, cerdas de el el deh..
tapi alangkah tambah bahagianya lagee klo mba pake jilbab..
hmmm,te o pe be ge te banget dech,,,udah pinter dalam hal dunia pinter juga dalam hal akhirat...
bangga dech punya smart moslemah like you..

10:57 AM  
Anonymous Ditho said...

Sip, setuju banget dengan Mbak Najwa. Ga perlu berjilbab hanya karena ikut-ikutan.

Yang penting benahi dan manajemen hati yang benar dulu. Kalau memang belum mantap berjilbab kenapa mesti dipaksakan.

2:42 PM  
Anonymous Anonymous said...

kagum kagum kagum.... masyaALLAH... semoga syarifah selalu dijagakan ALLAH dari berbagai fitnah dunia,kubur dan akhirat, serta selalu dipancarkan rizky dhahiran wa bathinan... saya yakin masa itu (jilbab) akan datang...
saya tersentuh sekali najwa mendisiplinkan shalat berjamaah, tadarus, ratib haddad... masyaALLAh... semoga bisa mencontoh... menurut saya pendidikan yang baik dan ikhlas hanya didapat di rumah (orang tua).


menurut saya, jilbab refleksi (dhahir) daripada hati (bathin) yang berjilbab...


akhirul kalam semoga ada hikmah dari setiap kejadian...

Jaga Diri, Hiasi Peribadi... salam buat keluarga...

husni alkaff (husni_777@yahoo.com)

10:43 AM  
Anonymous Anonymous said...

Assalamualaikum.

Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu, bergantilah kepada apa yang tidak meragukan kamu.(Hr. Tirmidzi)

Pakai jilbab jauh lebih baik. InsyaAllah.

9:03 AM  
Blogger khansa said...

Assalammu'alaikum..

yupz..
sprt komen2 sebelumnya..
mmg sy kagum sm mb najwa dgn sgl klbhn yg tlh diberikan Allah kpdnya..
hmm,,mb nana kan pinter n tau ttg sdkt bnyk hkm agama kita,Islam..
sy cm pengenn ngingetin aja,,mgkn mb nana lp..
bhw memakai jilbab adalah KEWAJIBAN untuk setiap muslimah,,
hal itu sangat jelas disebutkan dlm kitab kita Al-qur'an..
(contohnya QS,24:31 n QS.33:59) dan bnyk hadis shahih yg menyatakan ttg kewajiban utk seorang muslimah menutup auratnya,,
jd bukan ikut2an krn itu memang perintah Allah..
insya Allah dgn qt berusaha mengamalkan kewajiban qt mk seiringnya akan tmbh kebaikan2 lainnya,,,
okeh,,smoga Allah mmbri hidayah pd qt smua,,Amin.
hdyh buat org2 terpilih,jd kl udh dpt jgn dilepas lg,,

2:08 PM  
Anonymous Anonymous said...

kalian semua sepertinya terjangkit virus liberal..
buruan bertaubat deh mumpung masih hidup..
Ingatlah HISAB dan BERBUATLAH YANG MEMBUAT ALLAH RIDHA SAJA..

2:09 AM  
Anonymous Anonymous said...

amazing

7:10 PM  
Anonymous Anonymous said...

Mbak najwa...terus terang ayah anda termasuk pakar tafsir yang diacungi jempol..namun bagaimana pun masalah pendapatnya soal jilbab saya kurang setuju karna masalah jilbab itu sudah dinashkan dalam alqur'an dalam arti kata bukan masalah yang bisa diubah oleh pendapat manusia, oleh karnanya ulama-ulama mewajibkan pengguanaan jilbab bagi seorang wanita dan tidak ada yang menyanggah masalah ini hanya saja perbedaan pendapat terjadi dalam masalah penggunaan cadar ato tutup wajah seperti yang digunakan oleh banyak perempuan negara teluk seperti di arab saudi,dan dizaman rasulullah dan para sahabatnya yang memahami islam sesuai dengan yg diajarkan oleh rasulullah sallallah alaihi wa,alihi wasallam tidak ada diantara mereka yang membolehkan tidak berjilbab dan belom pernah kami dengar dari guru2 kami...saya sangat setuju bahwa hati harus dijilbabi karna itu sumber segala2nya dan jilbab dikepala tidak akan menutup kejahatan dan karakter jelek sesorang namun bukan berarti dengan dalih ini jilbab jadi tidak wajib..membenahi akhlak dan hati adalah tugas setiap muslim tapi jilbab juga adalah kewajiban setiap muslimah yg tdk boleh ditinggalkan jadi saya hanya ingin bagi ilmu kepada mbak najwa bahwa jilbab itu wajib dan pendahulu2 mbak yang bermarga bin syahab yg merupakan keturunan Rasulullah saya yakin semuanya memahami bahwa jilbab itu wajib lebih2 yg dulu masih dihadramaut ..dan saya yakin dengan anda berjilbab selain pahala anda tambah orang2 akan lebih bangga dengan anda terima kasih atas karir2 dan bekas2 jempol baik yang anda lakukan didunia jurnalistik mudah2an Allah memberikan kita taufiq dalam segala amal yg kita perbuat amin..

2:10 AM  
Anonymous Anonymous said...

Gimana sich caranya supaya bisa jadi presenter handal seperti mba' aqu juga ingin neh jadi profesional & amazing news reader tapi aqu berjilbab qra2 mampu ga' yach?

12:40 AM  
Blogger BAJU MURAH said...

This comment has been removed by the author.

1:44 AM  
Anonymous Anonymous said...

mantab....

1:46 AM  
Anonymous Anonymous said...

Udah Pinter Cantik pula, Wah Sayang seribu Sayang Kalo Gak Pake Jilbab,...

7:43 AM  
Blogger evencell said...

tetap ga setuju,jilbab adalah kewajiban muslimat

6:12 PM  
Anonymous Anonymous said...

And I have faced it. Let's discuss this question.

1:26 PM  
Blogger ACEH said...

Anak saya yg lahir th 2004 saya beri nama Najwa. Ada hubungan dengan peristiwa tsunami dimana Najwa menyampaikan siaran langsung dari lokasi bencana.

11:40 AM  
Anonymous Amran said...

Anak saya yg lahir th 2004 saya beri nama Najwa. Ada hubungan dengan peristiwa tsunami dimana Najwa menyampaikan siaran langsung dari lokasi bencana.

11:41 AM  
Blogger desvi said...

biarkan allah yang berkhendak....

5:49 PM  
Anonymous jilbab terbaru 2011 said...

ikut memantau ..keep update artikelnya ..salam

7:53 PM  
Anonymous Anonymous said...

mbak najwa, aurat = aurat dan jilbah = jilbah suatu hal yang berbeda dalam pandangan hukum, pandangan sosialis anda cukup meragukan tentang itu.

4:59 PM  
Anonymous Nurkhaidah said...

assalamu alaikum wr.wb
saya sangat terkesan dengan prinsip ka' Najwa yang lebih memengtingkan hati untuk berjilbab. .
namun yang ingin saya tanyakan di sini bagaimanakah hukum memakai jilbab sesungguhnya dalam islam, dan bukankah dengan memakai jilbab akan lebih menjaga hati?
dibandingkan dengan orang yang tidak berjilbab. .

5:33 AM  
Anonymous Anonymous said...

CERDAS,RAMAH,CANTIK..........INDAHNYA CIPTAAN ALLAH........



arktik_bluette@yahoo.com

www.facebook.com/Mile Post

9:28 PM  
Anonymous Anonymous said...

Anak dan Bapak sama jahilnya/Bodohnya... berani menolak perintah Allah, bagaimana hatinya di katakan baik..
Orang yang baik hatinya yaitu orang yang mentaati perintah Allah dan menjauhi larangannya, berdasarkan tuntunan Rasullullah...
Semoga tempat majalah ini segera di Azab oleh Allah Subhanahu wata ala ..

9:49 AM  
Anonymous Islam Moderat said...

"Anak dan Bapak sama jahilnya/Bodohnya... berani menolak perintah Allah, bagaimana hatinya di katakan baik..
Orang yang baik hatinya yaitu orang yang mentaati perintah Allah dan menjauhi larangannya, berdasarkan tuntunan Rasullullah...
Semoga tempat majalah ini segera di Azab oleh Allah Subhanahu wata ala .."


Sempit amat cara pandangnya om. Berpikiran moderat itu penting. Banyak perkembangan Islam hebat di masa lampau karena org2 Islam dulu kritis dan moderat.

Tapi kalo org Islam zaman sekarang ya kaya si om di atas ini. "nurut atau neraka" jadi pegangan. Makanya Islam jadi bahlul alias bodoh alias jahil alias ketinggalan alias dizalimi mulu sama kaum kafir.

Gara2 org kaya ente ini nih. NYADAR!!!!

3:18 PM  
Anonymous Anonymous said...

Jilbab tu cuman adat orang arab,

1:52 PM  
Anonymous Anonymous said...

Kata lu gwe sesat, kata gwe lu sesat,

1:57 PM  
Anonymous Filsuf Islam Z.A said...

Setuju sama mbak Najwa :)
Setuju sama Islam Moderat :)

2:31 PM  
Anonymous Hamba Allah said...

Perintah menutup aurat itu wajib, terdapat dalam Al Quran dan semua muslim dan muslimah wajib mentaatinya. Tidak menutup aurat dengan baik tidak hanya berdosa bagi diri sendiri tapi juga bagi orang lain yang melihat aurat anda terbuka. Apalagi anda bekerja di televisi dan setiap hari banyak pemirsa yang menonton acara anda, apakah anda tega membiarkan muslim dan muslimah lain bermaksiat menyaksikan aurat anda yang terbuka di televisi?

10:02 AM  
Anonymous Anonymous said...

Dasar kaum liberal laknatullah, ngaku2 doang islam..

Jilbab ntu BUKAN untuk menentukan KEBAIKKAN seseorang, "yg pnting pake jilbab HATI??" itu cman alasan yg mengada-ada, karena jilbab itu untuk "MELINDUNGI" aurat yg memang seharusnya bukan bagian orang yg g berhak/ yg bukan muhrim..

klo cmn jilbab hati, ga ada bedanya anda dengan pelacur!! yg ngasih tubuhnya ke semua orang!!
PAHAM ENTE!!!

1:26 AM  
Anonymous Anonymous said...

@Islam moderat
auratnya terbuka itu akan buat maenan setan, emang ente mau bini lo di GREPEK.in setan??
ato calon bini lo ntar, yg bahkan belum lo sentuh, eh udah di grepek.in ama setan laknatullah??
kbagian bekasnya setan gt mau??
ih NAJIS kalo gue mah..

1:35 AM  
Anonymous Anonymous said...

Saya setuju 100% dengan Nana.
Jangan terpengaruh dengan orang-orang yang suka menindas perempuan atas nama jilbab. Jilbab itu budaya Arab. Di Quran tidak ada perintah menutup kepala. Orang2 Arab memang kebudayaannya memakai jilbab, hanya saja dada mereka terbuka. Oleh karenanya muncul ayat2 yang menyuruh mereka mengulurkan jilbab mereka ke atas dada mereka. Bukan memakai jilbab. Jadi, Nana sudah benar, kecuali Anda pakai tank top atau bikini pada waktu siaran.

9:01 AM  
Anonymous Anonymous said...

Ohh.. Nabi Nuh anak nya aja juga ga nurut (QS. Hud: 42-43). Meski Sang ayah seorang ahli tafsir, ironis jika ini demikian, atau juga barangkali blog ini sesat dan menyesatkan,who's know ..

Namun mestinya Ust. Quraish Shihab mendoakan nana ini sprti Nuh (QS. Hud: 45)

Masalah jilbab bukan masalah penindasan, juga bukan sekedar budaya arab, tapi ini agama! yang diatas gue goblok tuh.. Saya setuju yg di atas ane ni kafir 100%.

1:29 PM  
Anonymous Anonymous said...

atasku ini kafir yang mengatakan orang lain kafir, padahal dirinya sendiri kafir

7:30 AM  
Anonymous Anonymous said...

betul betul, ane setuju, mending tuh yg sukanye kafirin orang laen, ane setuju mending dipakein jilbab aja tuh orangnye

7:33 AM  
Anonymous Anonymous said...

yg sukanye kafirin orang laen maksud ane

7:35 AM  
Anonymous Anonymous said...

Bisa ya manusia mengafir2kan dan menyesat2kan manusia yang lain?

1:19 PM  
Anonymous Anonymous said...

wanita dikatakan muslimah itu berjilbab dan berakhlaq , meskipun akhlaq kita sudah baik dan terhormat tp belum berjilbab belum dikatakan muslimah , berjilbab tp akhlaqnya belum terhormat jg belum bisa dikatakan muslimah.

12:59 PM  
Anonymous Anonymous said...

Hai Najwa...
Semoga anda tetap tidak berjilbab...
Jangan biarkan dunia ini jadi membosankan tanpa dirimu yang sebenarnya...

5:58 PM  
Anonymous Anonymous said...

kalo cuma pinter mengkritisi di indonesia ini ada ribuan orang yang kritis dan cerdas......
mbak najwa beruntung aja bisa jadi presenter....kalo gak jadi presenter pasti nasibnya sama dengan ribuan orang diindonesia ini...
kalo gak mau pake jilbab....jangan cari alasan yang bisa membuat umat muslim(MUSLIMAH)bisa membenarkan alasan yang mbak buat kenapa mbak gak berjilbab....dosa besar lho mbak...jilbab adalah kewajiban setiap muslimah...terlepas pernyataan mbak "hati “berjibab” lebih baik daripada sekadar jilbab kepala. " itu adalah tanggungjawab masing masing...yang pasti dalam islam jilbab adalah kewajiban muslimah...

8:45 PM  
Anonymous Anonymous said...

untuk ayahanda mba najwa lebih baik syiar ke keluarga dulu,
.. baru ke public ...

'setiap muslimah tidak ada udzur untuk tidak berjilbab"

alquran kalau ditafsir sendiri jadi sesat!!!

10:42 PM  
Anonymous Anonymous said...

alquran itu diturunkan bukan hanya untuk bangsa arab
tetapi untuk semua umat n sepanjang zaman begitupun perintahnya untuk berjilbab untuk wanita muslimah ..

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang” (QS.al-Ahzab:59)




10:48 PM  
Anonymous id said...

Untuk urusan Jilbab,kembali lagi ke diri masing2. Percuma pakai jilbab kalau kelakuan kafir. nggak usah sok ngasih ayat al-quran kalau perbuatan kita tidak mengamalkan nilai2 kitab suci itu sendiri. Najwa Shihab sukses seperti sekarang ini karena amal perbuatannya dan itu di lihat Allah.

9:09 PM  
Anonymous rifqi abrar said...

assalamu'alaikum mba najwa
semoga masukan ini anda terima dengan senang hati dan mencoba berpikir ulang kembali tentang masalah jilbab.
semua orang tahu bahwa anda adalah sosok wanita yang mempunyai kecerdasan intelektual yang luar biasa namun alangkah baiknya jika anda memanfaatkan kecerdasan itu dalam memahami alqur'an surah al-ahzab ayat 59.
dan anda coba lagi memikirkan apa yang membuat anda tidak bisa memakai jilbab.
no excuse........untuk tidak memakai jilbab.
wassalam

8:03 AM  
Anonymous Anonymous said...

Gue kasian banget sama Mba Najwa ini.Prestasinya yang begitu gemilang harus dinilai sia-sia hanya karena dia tidak memakai Jilbab.Padahal belum tentu bagi yang berpendapat Jilbab itu tidak wajib maka ia berdosa.Bagaimana bila orang itu punya teori-teori pendukung yang kuat?haruskah dianggap sesat juga?Saya yakin banget jalan hidup Mba Najwa dan pendapat Ayahandanya tentang Jilbab sudah benar. Meski saya masih tetap menggali dan menggali Ilmu untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki. Bagi yang merasa sependapat dengan keyakinan saya silakan torehkan dukungannya di j_kebenaran@ymail.com

2:10 AM  
Anonymous Anonymous said...

Bravo najwa!anda punya jiwa demokratis,terbuka,cerdas,berpandangan luas.sy sependapat dg anda-dan ayah anda-rasanya sedikit org indonesia yg senang menela'ah,mengkaji segala hal secara komprehensif.rata2 senangnya ikut2an,tidak suka baca buku,gimana ramenya aja.itu sebabnya byk yg salah sangka pd ayah anda.bersabaar ya,dan terus berdakwah.

8:40 PM  
Anonymous Anonymous said...

Dinamika jilbab sudah ditela'ah sangat komprehensif dlm buku ttg jilbab prof quraish shihab.tinggal kita pilih mana yg menenteramkan.tak ada pembangkangan pd ALLAH kalau memilih tdk pakai jilbab.yg ingin sy ajukan u kita semua pikirkan adalah"THIS IS HUMAN'S WORLD(THAT THERE ARE MEN N WOMEN THAT HAVE THEIR OWN IDENTITIES),NOT ONLY MEN'S WORLD.WE ARE EQUAL!"tidak fair bila segala hal ttg perempuan harus menggunakan HANYA standar yg ditentukan laki2

1:59 PM  
Anonymous Anonymous said...

Ngaco... Berjilbab or ngga itu urusan pribadi seseorang dengan Tuhan-nya... Gitu aja koq repot..!!!

12:50 AM  
Anonymous Anonymous said...

iyah tp klo bs jgn di siarkan msalah g perlu berjilbab yg pntg hatinya berjilbab.. krn bs jd d tirubanyak muslimah d sni.. akhr ny mb najwa bs terciprat azab..

12:02 PM  
Anonymous Anonymous said...

selama itu tafsir selalu terbuka alternatif tidak ada kewajiban untuk berjilbab yang ada kewajiban untuk menutup aurat...

5:53 PM  
Anonymous Anonymous said...

yang penting bukan jilbab tapi hati,

8:37 PM  
Anonymous Anonymous said...

saya sangat sependapat dengan mbak, krn jilbab budaya arab, kita bedakan nana budaya mana agama.intinya biar sdh pakai jilbab tp hatinya masih kotor ya ndk ada gunanya...podowae alias sami mawon

8:43 PM  
Anonymous Anonymous said...

jilbab bukan ekspresi kepatuhan tp banyak krn atas dasar ikut2an, bukti ada perempuan yg kemana2 pakai jilbab tp sering meninggalkan kewajiban sholat sementara ada perempuan lain yg tdk pakai jilbab tp tdk meninggalkan kewajiban sholatnya.Jd hakekatnya klw laki2 melihat rambut wanita terangsang maka itu aurat tp jika tidak ya bukan oleh krn itu lihat konteksnya alias esensinya.

8:49 PM  
Anonymous Anonymous said...

Semoga mbak Najwa cepat dapat hidayah untuk berjilbab, Amin...

11:00 PM  
Anonymous Anonymous said...

Najwa, good for you. Be your self.

Saya pernah bertugas di Oman dan Kuwait, dan saya tahu bahwa berpakaian tertutup memang keharusan dari ALAM (nature) karena angin berpasir. Tetapi saya juga mengagumi wanita Kuwait merasa bebas untuk tak berjilbab di dalam shoping mall.

Gak ada masalah buat mereka. Orang indo suka menterjemahkan hukum sebagaimana tertulis tanpa tahu alasan.

10:08 AM  
Anonymous Anonymous said...

Sebagian Putri Kerajaan Saud pun tidak berjilbab. Sesuai dengan tafsir Quraish Shihab, tidak ada batasan seperti apa itu jilbab, yang jelas untuk menjaga kehormatan, dsb,
Sedangkan hadits tentang Asma itu dhaif, yg dishahihkan oleh Nashirudin si tukang jam yang suka mengobrak-obrik kitab muktabar.

12:06 AM  
Anonymous Anonymous said...

Jadi... kalo gitu... kalo anda ga setuju ama peraturan agama tertentu, dalam hal ini adalah Islam, ya ganti agama aja, selama itu sesuai dengan kata hati anda dan itu yang anda yakini. Dalam hal ini agama Islam juga tidak berhak mengutuk agama lain dan orang2 yang sudah tidak bisa menyesuaikan diri dengan agama yang dianut. Berjilbab jangan ikut2an. Beragama juga jangan ikut2an, yang terpenting adalah ikuti kata hati anda. Orang tua bukan Tuhan.

6:56 PM  
Anonymous Anonymous said...

Buat apa berjilbab kalo prilaku tersembunyinya tidak sejalan dgn jilbabnya. Hal yg seperti ini biasanya dikarnakan tak enak thd lingkungannya alias ikut2an alias munafik. Contoh fakta udah banyak(mungkin pernah dengar ato liat sendiri). Berjilbab tp hamil duluan. Bersuami dan berjilbab tp kluar-masuk hotel dgn selingkuhan, kena razia pula!. dll

5:51 PM  
Anonymous Anonymous said...

Ribet orang2 yg musingin soal jilbab, keep it up Nadja , apa yg kamu lakukan much much more important .

10:21 PM  
Anonymous Anonymous said...

jilbab adalah kewajiban bagi muslimah, meski gak jaminan kalau semua yang berjilbab hatinya juga berjilbab. masalah hati kan kita tidak pernah tahu, dan tidak berhak untuk menilai dan menghakimi, benar2 hanya hak Allah SWT. yang penting kita niatkan untuk ibadah, ikhlas, dan berusaha menjaga hati serta perilaku kita. tapi lebih dari itu, kita lebih baik meniru apa yg mbk nana lakukan untuk orang banyak, daripada ribet menilai beliau secara subyektif, lebih sempit lagi secara penampilan

8:51 AM  
Anonymous Anonymous said...

hadeeeh
kalau konteksnya seseorang yang berjasa pada masyarakat banyak, 4 jempol deh buat mbak nana
tapi kalau soal pandangan berjilbab, hadeeeeeh banget dah, jilbab itu kan wajib tah?apalagi Anda panutan yang selalu tampil di publik lho mbak,betapa hebatnya wanita dengan pemikiran yg brilian seperti Anda juga mengcover diri Anda dengan kemuliaan seorang muslimah sejati, soal fulanah fulanah berjilbab tapi perlikunya bejat, itu tanggung jawab mereka masing2 tah, justru kalau kita tidak suka dengan hal2 seperti itu, kita yang harus berjuang meluruskan itu, bukannya malah berpandangan minor sama jilbabernya. gak ada yang tahu mana yg benar dan mana yg salah kalau gak ada yg ngasih tahu. secara Anda dan ayah adalah sosok yang paham agama, menurut saya, alangkah mulianya jika kebaikan kemanusiaan Anda juga diiringi perjuangan mendewasakan dan memberi pencerahan umat soal hijab yang sesungguh-sungguhnya

TQ

9:01 AM  
Anonymous Anonymous said...

mulai dari nabi adam sampe nabi muhammad SAW gak ada itu hati pake jilbab yang pake jilbab itu tubuh dari atas sampe bawah. kalo memang tidak mau pake bilang aja tidak mau kalo alasan yang penting hati udah jilbab namanya munafik, but its ur choice n ur the one that got the consequence. dalam al qur'an dijelaskan wanita yang memperlihatkan sehelai rambutnya kepada lelaki yang bukan muhrim dapat satu dosa jadi hitung aja berapa dosa yang didapat, itu baru 1 lelaki kalo setiap hari dilihat puluhan bahkan ratusan ribuan dosanya gak kehitung deh... makanya Rasulullah sdh bilang bahwa yang di neraka itu lebih banyak wanita daripada laki2... wallahualam bissahwab

2:43 PM  
Anonymous Anonymous said...

Ini apa deh, semacam lupa kalo agama itu kurvanya kan berbanding lurus hanya antara individu dan Tuhannya langsung.
Urusan dosa atau tidak, punishment tetap jatahnya Tuhan yang punya hak..bukan manusia. Situ siapa pada..? Sudah tanpa dosa emang hidupnya..? Bisa, punya prestasi seperti mpok najwa..?

Tiap orang punya pilihan hidupnya masing2,. Jadi biarin aja sih, kalo dia memilih untuk gak berhijab..toh itu urusan dia juga dengan kepercayaannya.

Anda yang berhijab bukan berarti juga anda punya hak untuk berkata bahwa non hijabers itu sarat akan dosa. Anda siapa..? Nabi..? Atau jangan2 merasa sebagai Tuhan..makanya berHak bilang bahwa itu dosa/ini laknat, dan lain sebagainya.

10:32 AM  
Anonymous Anonymous said...

Memang yg penting itu kebaikan hati. Kalau perempuan dan laki-laki bisa menghargai satu sama lain, mengerti kalau kita tidak boleh menyakiti satu sama lain dan menjamah tubuh orang lain tanpa persetujuan satu sama lain, maka nggak masalah orang pakai baju apa kan. Kita bisa hidup akur tanpa masalah.

Maka saya setuju yg penting kebaikan hati bukan symbol artificial seperti jilbab. Ada perumpamaan dengan perempuan sebagai sex object yg akan menarik perhatian laki2 begitu saja dan laki2 akan menjamah mereka seenaknya. Nah yg salah in the first place ini udah laki2nya yg melihat perempuan bukan sebagai manusia yg punya choice. Jadi yg harusnya didik itu masalah gimana laki2 bisa menghargai wanita sebagai manusia juga, bukan sekedar sex object.

Saya yakin laki2 baik di Indonesia itu banyak banget, jadi jangan dianggap bodoh dong mereka dengan menyuruh para wanita untuk pake jilbab karena para petinggi Muslim di Indonesia menganggap kalau kebanyakan laki2 Indonesia itu seperti binatang yang nggak bisa mengcontrol napsu mereka. Saya rasa dengan menaikan sosok wanita seperti manusia lainnya (dengan adanya Mbak Najwa misalnya), laki2 Indonesia jg akan mengerti kalau mereka nggak boleh begitu saja menjamah wanita. Bisa melihat bahwa wanita juga punya pikiran, hati dan hak untuk memilih.

Ada bukti juga dinegara seperti Arab Saudi tingkat pemerkosaan masih tinggi walaupun wanita disana kebanyakan sudah menutup aurat mereka dengan full jilbab. Apalagi banyak laki2 yg malah tertarik dengan perempuan yang memakai jilbab atau tidak peduli sang wanita memakai jilbab atau tidak, jadi walau sang perempuan memakai jilbab pun tetap disentuh. Jadi dengan basis seperti ini, memang moral , empathy dan kebaikan yg harus dinaikan, bukan pemakaian jilbab.

Saya rasa, surat di Al-Quraan tersebut memang ditulis saat itu secara darurat untuk melindungi wanita disaat perang, mungkin krn kebencian yang hadir ketika perang dapat menghilangkan akal sehat laki2. Tapi untuk pria yang baik dan selalu berakal sehat dan mengsanjung moral seperti Nabi Muhammad SAW, dalam situasi apapun perempuan tidak akan diperlakukan semena-mena. Jadi yang harus dilihat alasanya ketika itu perempuan disuruh mengenakan jilbab. Yang harus dicontoh itu sikap Nabi yang bisa memasukan akal sehat disetiap situasi.

Bagi wanita Muslim yg mengenakan jilbab krn personal choice, saya sangat menghargai mereka. Namun, yg mengenakan krn terpaksa, atau terpaksa krn kepikiran takut akan dianiyaya secara sexual oleh laki2, saya bersimpati dengan mereka, krn keinginan mereka yg sesungguhnya sudah diambil.

6:55 PM  
Anonymous Anonymous said...

Saya juga setuju kalau agama itu urusan personal antara manusia dan Tuhan, jadi sebetulnya orang lain tidak boleh menganggu urusan pribadi orang lain.

Dosa itu urusan antara Tuhan dan manusia secara individual. Saya yakin Allah itu sangatlah baik, dia akan adil terhadap semua orang yang berbuat baik, yg berjilbab maupun yang tidak berjilbab.

Damai untuk Indonesia :)

7:11 PM  
Blogger Eka Rahmah said...

Exactly...!
gak usah asal mengjudge orang lain.

10:00 PM  
Anonymous Anonymous said...

Assalamu'alaikum mbak Najwa. Sy salah satu penggemar anda. Pendapat pribadi mmg tdk d haruskan sama, namun bagi kita yg beragama islam sudah jelas tertera dalam al-quran bhw jilbab itu wajib (harus) digunakan bagi muslimah. Artinya jika tidak dilakukan itu berarti dosa. Tafsir mengenai jilbab ini mgkn berbeda diartikan oleh pak Quraish, namun menurut sy keliru jika jilbab hati lebih penting dr jilbab fisik. Jilbab itu WAJIB. Smg mbak Najwa scptnya bs berjilbab yaa..

7:00 AM  
Blogger Muhammad Munari said...

Buat Syarifah Nazwa sukses selalu, Insya allah kalau memang berkehendak berhijab jangan dilepas lagi. Salam buat keluarga ya...

10:45 PM  
Blogger Muhammad Munari said...

Buat Syarifah Nazwa sukses selalu, Insya allah kalau memang berkehendak berhijab jangan dilepas lagi. Salam buat keluarga ya...

10:46 PM  
Blogger trimo faozan said...

This comment has been removed by the author.

11:02 PM  
Anonymous Anonymous said...

terhormat yang bagaimana ... ?
hormati mata kaum lelaki karena jilbabmu, maka kaupun dapatkan penghormatan lebih tinggi di mata kaum lelaki, terlebih disisi Allah.

hilangkah rasa malumu saudariku najwa? ^^

11:14 PM  
Anonymous azzahra said...

salam mba najwa, prinsipnya emang bagus mba percuma klo pake jilbab cuma ikut ikutan doang,tapi hatinya gak di jilbabin (hatinya blum baik).. tpi mri kita berlogika. berartikan mba najwa berpikir akan lebih baik kalo hatinya dulu yang diperbaiki kan? nah sekarang bagaimana kta bisa menjadikan hati kita baik kalo menerima sebuah kebaikan saja hati kita tidak mau?

justru orang yg tidak mau menutup auratnya dipertanyakan kebaikan hatinya? kenapa ia enggan menjaga kehormatan dan kemuliaannya dengan mnutup aurat

5:32 AM  
Anonymous azzahra said...

klo mnurut prinsip saya yg benar adalah kita menjilbabi hati dan diri kita secara bersamaan, saling berdampingan, memperbaiki luar dan dalam :) syukron

5:37 AM  
Anonymous Rachmi said...

menurut saya : Berjilbab itu wajib, dalam hal prakteknya bisa karena dari panggilan hati, ikut2 teman, disuruh ortu atau disuruh suami dan mungkin dapat hidayah. Tapi bagi yg belum berjilbab ya ga papa ga usah dipaksakan, namun bukan berarti yg tdk berjilbab bisa cari pembenaran/pembelaan diri dengan pembenaran yg melanggar Al Quran dan Sunnah Rosul. Naudzubillah

3:16 PM  
Anonymous Anonymous said...

hijab buat menutup aurat, dan aurat perempuan diluar shalat,para ulama ahli madzab berbeda pendapat. Dan apakah hijab itu kerudung?

Saya setuju ada fiqh indonesia

10:44 AM  
Anonymous auliav said...

Temanku berjilbab
Aku tidak
Temanku berjilbab, ia bolong-bolong sholatnya
Aku tidak
Aku tidak berjibab, aku tidak sholat

Temanku rajin sholat
Aku tidak
Temanku rajin sholat, ia tak berjilbab
Aku tidak
Aku tidak keduanya

Temanku ikut sholat, ikut berjilbab
Aku tidak
Temanku ikut-ikut sholat, ikut-ikut berjilbab
Aku tidak ikut-ikutan

Temanku tanya mengapa aku tak gerak
Aku tak ikut-ikutan
Temanku tanya apa buruk ikut kebenaran?
Hatiku diam.

10:56 PM  
Anonymous Anonymous said...

(QS Al-Ahzab/ 33: 59).
(QS An-Nur/ 24: 31).
Kalau "Hatinya sudah berjilbab", tentu dia akan ingin "Menjilbabkan penampilannya"

1:27 AM  
Blogger ri yuria said...

Bismillahirrahmanirrahiim

Alhamdulillah atas Rahmat Allah SWT,Saya termasuk wanita beruntung,bekerja dgn profesi bertemu publik,Business Development Manager Perusahaan asing dari USA. Saya juga punya pendirian sama spt Najwa. saya juga Liberal.Sangat logis sekali.Islam saya pahami dgn logika.Tak ada di agenda hidup saya untuk mengenakan Hijab.Bahkan kawan saya bilang Dunia sebentar lagi kiamat kalau saya yang sudah berhijab.Kemaksiatan apa yg luput saya kerjakan?[Astaghfirullah].itu dulu :)
Alhamdulillah Allah menuntun hati saya,mencurahkan HidayahNya.Saya sekarang menutup aurat dan tetap melakukan aktivitas profesi saya.Mindset saya sudah sejalan dengan hati.dengan belajar AlQur'an dan As Sunnah.Hijab is Dignity.Pun Hijab mengontrol behaviour kita.Apalagi Hati :) saya rasa semua wanita berakal dan berilmu tidak bisa menampik tentang Wajibnya menutup aurat.Dan ketika ditanyakan ke hati? Insya Allah hati setuju. Tidak ada alasan,saya harus melaksanakan karena perintah dari Allah Azza Wajalla langsung. Dan saya wajib memperjuangkan Agama saya,meskipun tantangannya berat :) Insya Allah,demi kehidupan kekal di akhirat. Najwa, saya do'akan semoga mendapat Hidayah juga :) seharusnya triggernya sudah ada menurut saya,ketika anak Najwa ke dua meninggal,itulah peringatan Allah SWT.Najwa sulit mengikhlaskan [ saya lihat tayangan di Hitam Putih] IMHO,Najwa belum menyelaraskan pikiran dan Hati. Berserahlah saudariku:) Manusia itu lemah :)saya yakin Najwa yang terhormat akan makin dihormati jika menutup Aurat.Dan pekerjaan saat ini bisa menjadi ladang Pahala u Najwa dlm melakukan Syiar Agama Islam u msulimah,Insya Allah... Barakallah Ya? saya yakin insya Allah suatu hari Najwapun akan mengikuti jejak Muslimah lainnya. Berhijab itu adalah Fitrah wanita muslimah,menurut saya. Seperti orang menikah,hijab jg adalah satu tahap puncak kehidupan.Dan Saat ini Najwa belum mendapatkan Jodoh dgn Hijabnya ...smg cepat2 nyusul yah Najwa .. :) Mintalah,Do'akanlah Dirimu sendiri,senantiasa,sis, Allah akan mengabulkan,Insya Allah...

3:57 AM  
Anonymous Anonymous said...

Berdasarkan pengalaman sehari2, kalau lagi antre busway atau antre kasir, atau di pasar, rata2 ibu2/mbak2 berjilbab justru nggak punya manner & suka nyelak tuh. Betul kata Najwa, mending hatinya dulu deh dibenerin, hubungan sama Tuhan memang penting, tp hubungan baik dgn sesama manusia jg sama pentingnya.

8:45 PM  
Anonymous AA JIMY said...

oo Mba Nazwa Islam tooh... baru tahu aku.. Gak kelihatan siih..

12:29 PM  
Anonymous Anonymous said...

Arab telah berhasil menjadikan bangsa Indonesia sebagai salah satu produk mereka, buktinya bisa dilihat dari komentar-komentar di atas, betapa sangat membela produk arab, lupa dengan asal usul bangsa ini siapa, lupa diri. Selalu bangga dengan produk arab dan lupa dengan dirinya sendiri, seolah olah bagsa ini bagian dari arab. Jilbab di bela sampai mati sedangkan orang arab ga pernah peduli dengan budaya kita. Selamat, anda telan mejadi pruduk bangsa arab.

12:04 AM  
Blogger dian poernamasari said...

Kalo ga mau pake jilbab mending nazwa jadi laki laki aja.. Sembarangan bilang pake jilbab ga wajib.. Tobaaaat luuuuuh

12:17 AM  
Anonymous Anonymous said...

bu najwa....semakin pinter sehingga dapat mencari alasan untuk bisa menutupi ketidakmampuannya berhijab. seandainya agama itu hanya urusan individu belaka maka tidak perlu ada penyiaran agama sejak zaman jahilia sampai zaman peradaban. Agama adalah urusan umat dan ada syariatnya. kalau kita tidak sanggup menggunakan hijab sebagaiman dalam alquran, kita jangan mempengaruhi mereka dengan membenarkan pendapat kita. seandainya mbak najwa ini anak bukan ahli tafsir saya maklumi namun ini berbeda, pendapat ini keluar dari lingkungan keluarga yang taat alquran yang tau isi kandungan alquran dan menyampaikan lewat media. kita berdoa agar hidayah itu ada. Tuhan Maha pengasih dan penyayang untuk semua umatnya

8:08 PM  
Anonymous Anonymous said...

Hanya Allah yg berhak mengkafirkan manusia. Hanya org yg gak sholat yg boleh dikata kafir. Gue ga pernah ninggalin sholat. Hati2 loe ngomong. Jadi muslim kok ga bisa dicontoh sih?

9:16 PM  
Anonymous Anonymous said...

Makasih atas pencerahannya. Kita mmg selama ini jd katak dlm tempurung.

9:19 PM  
Anonymous Anonymous said...

Knp ente sll menjadikan perempuan sbg korban? Ente tutup aja mata lelaki yg mata keranjang. Klw ente maksain perempuan pake jilbab, bagusnya mukanya dijilbabi jd yg kelihatan cuma full rambut sja. Dijamin pasti ga ada yg ganggu. Lihat tuh aa gym, selingkuhannya pk jilbab? Knp?? Krn mukanya yg terbuka!! Coba klw mukanya yg ditutup, rambutnya sja yg kelihatan?!?

9:26 PM  
Anonymous Anonymous said...

Loe berjilbab ya, tp bisa apa dan apa bisa??

9:28 PM  
Anonymous Anonymous said...

anda kliru besar!! Faktanya para hijaber sdh merasa sdh puas dg hijabnya dan menyangka bhw kewajiban2 dan amalan2 lainnya sdh cukup diwakili dg jilbabnya. Naudzubillah

9:34 PM  
Anonymous Anonymous said...

Ente gampang horny ya. Lihat rambut aja udah tegang batang ente. Ente perlu ke psikiater.

9:36 PM  
Anonymous Anonymous said...

Aurat itu apa sih ? Belajar tafsir dari mana?

9:38 PM  
Blogger Rina B said...

Hai admin. Makasih atas postingan wawancara dengan Najwa Shihab. Admin beruntung bisa wawancara Najwa Shihab. Senang rasanya tau kalau memang Najwa Shihab adalah seorang syarifa(walahualam, semoga tidak salah) karena membaca ratib haddad menjadi ratib yang di baca oleh keluarganya. Dan merasa kagum dan senang karena Najwa shihab tetap selalu mengingat Allah dan tidak ragu lagi saya untuk kagum karena Najwa Shihab bisa menjadi orang yang jika saya kagumi, maka saya mengingat Allah :) assalamu'alaikum buat admin..

11:26 PM  
Blogger Rina B said...

This comment has been removed by the author.

11:27 PM  
Anonymous Banxzhat said...

Jual BH sekarung

7:56 AM  
Anonymous Anonymous said...

La'anakallah

10:01 PM  
Blogger lailalaila said...

Yang Penting Hatinya ber-Jilbab walaupun tidak berjilbab kepalanya, walaupun tidak sholat, walaupun tidak puasa, walaupun tidak haji padahal mampu, walaupun dan walaupun dan walaupun..... hebatnyaaaa...

3:19 PM  

Post a Comment

<< Home