Tuesday, March 22, 2005

Abu Hanifah dan Para Raja

Pemikiran fikih Abu Hanifah dikenal sebagai kiblat Mazhab Hanafi. Di sisi lain, dalam hidupnya, ia banyak memberi contoh cara menghadapi pemerintah.

Khazanah, Maret 2005

Lelaki itu dikawal masuk istana. Wajahnya yang hitam kemerahan tampak bersih dan semakin cerah berseri dengan sorban berwarna putih menghiasi kepalanya. Di dalam, Abu Ja’far Al-Mansur, khalifah kedua dinasti Abbasiyah, menunggu. Sepertinya laki-laki itu menjadi tamu agung sang khalifah.

Keduanya saling berhadapan. Tak berapa lama Khalifah menyampaikan maksud hatinya. “Wahai Abu Hanifah, demi Allah engkau harus menerima diangkat menjadi qadli,” kata Khalifah. Khalifah sangat yakin Abu Hanifah akan menerima tawarannya.

Namun sang Khalifah kecele. “Maaf beribu maaf, Tuanku. Saya tidak sanggup menerima jabatan itu,” jawab Abu Hanifah tegas. Al-Rabi’i, pembantu Khalifah, turut bicara, “Tidakkah engkau pikir bahwa Amirul Mukminin telah bersumpah?” Abu Hanifah menjawab, “Hendaklah Amirul Mukminin membayar kifarat (denda sumpah) dan tentu beliau lebih berkuasa dariku.”

Secara tidak langsung Abu Hanifah menyatakan bahwa Khalifah telah melanggar sumpahnya karena ia tidak bersedia menjadi hakim. Akhirnya Abu Hanifah ditahan. Tidak lama Abu Hanifah dipanggil kembali.

Khalifah menegaskan kembali tawarannya. “Aku tidak pantas menjadi qadli,” hanya jawaban itu yang didengar. Khalifah menimpali, “Engkau bohong.”

“Amirul Mukmimin telah menghukum saya karena tidak mau menjadi qadli. Tuanku juga telah menuduh saya berbohong. Jika saya seorang pendusta tentulah tidak pantas (menjadi qadli) dan jika saya seorang yang benar sesungguhnya saya telah mengatakan kepada Amirul Mukminin bahwa saya tidak cocok menjadi qadli.”

Begitulah keteguhan hati Abu Hanifah yang bernama asli Nu’man bin Tsabit. Ialah pendiri salah satu mazhab fikih terbesar Suni, Mazhab Hanafi. Lahir di Kufah pada tahun 80 Hijriyah atau 659 Masehi. Keluarganya adalah pedagang keturunan dari salah satu sahabat Nabi Muhammad yaitu Salman Al-Farisy.

Waktu itu Kufah dikenal sebagai salah satu kota pelajar dan pusat pengetahuan. Pusat-pusat pendidikan berada di masing-masing pondokan para syaikh atau guru. Berbagai macam disiplin ilmu dipelajari di sana, terutama ilmu hadis. Menginjak usia remaja Nu’man belum menjadi salah satu santri di salah satu pondokan itu. Kadang-kadang saja ia lewat pondokan Syaikh Ash’abi, yang dianggap sebagai ulama besar waktu itu.

Suatu ketika saat Nu’man lewat ia dipanggil oleh Asha’bi. “Mau kemanakah engkau, anak muda?” tanya Asha’bi. Nu’man tidak menjawab. Asha’bi kembali berkata, “Aku hanya ingin bertanya.” Nu’man tetap terdiam.

“Apakah kamu salah satu murid dari pondokan di sini atau pondokan guru yang lain?” tanya Asha’bi kembali. Ditanya demikian, Nu’man dengan malu-malu menjawab, “Saya bukan santri siapapun, ya Syaikh.”

Asha’bi kaget. Ia hanya geleng-geleng kepala. “Saya melihat tanda-tanda kecerdasan dalam dirimu,” kata Asha’bi lalu diam sejenak. “Mulai sekarang kamu harus bergabung dengan para santri lain dan belajar dengan tekun. Kamu tidak boleh menyia-nyiakan bakatmu.”

Mulai sejak itu Nu’man tekun mencari ilmu, bahkan kemudian ia belajar kepada empatratus orang lebih guru.

Pada usia duapuluh dua tahun, ia aktif di majelis ilmu yang dimiliki oleh Syaikh Hammad bin Sulaiman. Ia belajar bagaimana menjadi pendebat terbaik dan juga pengetahuan tentang fikih dan ushul fikih. Di majlis ini ia terus belajar sampai Syaikh Hammad meninggal.

Dengan kecerdasannya pada usia empatpuluh tahun, Nu’man menggantikan Syaikh Hammad menjadi pengajar di majlis tersebut. Namun dengan kecerdasan itu, ia menunjukkan kerendahhatiannya.

Abu Yusuf, sahabat dekat Abu Hanifah, bercerita: Ibunda Abu Hanifah meminta kepada Abu Hanifah untuk pergi menghadiri majelis Umar bin Zar dengan mengendarai keledai. Ia disuruh untuk menanyakan beberapa masalah kepada Umar.

Saat ia sudah berjumpa dengan Umar ia langsung mengajukan beberapa masalah yang telah dipesankan kepadanya. Umar heran karena ia tahu bahwa pengetahuan Abu Hanifah lebih mumpuni dibanding dirinya. “Kenapa engkau bertanya kepadaku?” kata Umar. “Karena ibuku menyuruhku bertanya,” jawab Abu Hanifah.

“Engkau bertanya padaku tentang masalah, padahal engkau lebih mengetahui,” kata Umar. Tapi lagi-lagi Abu Hanifah menjawab dengan jawaban sama. “Karena ibuku menyuruhku,” katanya.

“Baiklah, sekarang aku memintamu menjawab pertanyaanmu tadi supaya nanti aku beritahukan kepadamu,” ujar Umar memberi solusi. Kemudian Abu Hanifah menjelaskan duduk persoalannya dan semuanya diulang Umar.

Abu Hanifah pun pulang ke rumah dan menceritakan kepada ibuya tentang jawaban Umar.


BARANGKALI sedikit diketahui orang bahwa perhatian Abu Hanifah terhadap pemerintahan tidak kalah saat ia bicara tentang fikih. Ia selalu menasihatkan kepada muridnya tentang bagaimana berhubungan dengan birokrat.

Kisah yang ditulis di awal tadi menunjukkan bagaimana Abu Hanifah tak menghendaki agama dipegang penuh oleh pemerintah. Seorang ulama sebagai pewaris nabi dalam memangku agama tak seyogianya turut berada di belakang khalifah.

Hal itu juga tampak dalam nasihat-nasihatnya. Misalnya ia pernah berkata:

“Berhati-hatilah terhadap raja sebagaimana engkau berhati-hati terhadap api. Engkau tidak akan kepanasan saat menjauh darinya. Di kala engkau berdekatan dengan api engkau akan terbakar dan sakit. Raja-raja tidak akan berpikir tentang kebutuhan siapa melainkan hanya kepentingan dirinya.”

Meski dalam nasihat ini Abu Hanifah sepertinya apriori dengan raja tapi di lain pihak ia juga memberikan apresiasinya. “Hendaklah engkau taat dan memuliakan raja-raja. Jangan sekali engkau berdusta di hadapannya. Janganlah engkau menghadapnya setiap waktu melainkan raja itu memanggilmu untuk berbincang pengetahuan. Karena acapkali menghadap raja membuatmu terhina dan rendah dan raja akan memandang rendah kepadamu.”

Di lain pihak Abu Hanifah juga mengajak murid-muridnya untuk kritis terhadap pemerintah. “Jika engkau mengetahui bahwa sultan atau raja-raja melakukan suatu perbuatan tidak baik yang melanggar hukum agama beri tahu kepadanya dengan taat dan setia karena kekuasaan sultan atau raja lebih berkuasa daripada kamu. Beri tahu kepadanya dengan bijaksana seperti: ‘Saya taat dan setia kepada Tuanku, tetapi saya ingin memberitahu suatu perkara yang tidak baik dan tidak sesuai dengan agama.’”

Pernah suatu ketika Khalifah Al-Mansur berselisih paham dengan istrinya. Mereka berdua datang mengadu kepada Abu Hanifah. Akhirnya setelah mendengarkan keterangan masing-masing, Abu Hanifah memberi jawaban bahwa kemenangan ada di pihak istri Khalifah.

Sebagai ucapan terima kasih istri Khalifah, Ummu Musa, mengirimkan banyak hadiah kepada Abu Hanifah. Namun ternyata Abu Hanifah menolak dan berpesan kepada utusan istri Khalifah. “Sampaikan salamku kepada mereka berdua dan katakan kepada mereka bahwa aku berjuang karena Allah. Aku mengikuti apa yang diridlai Allah. Aku tidak sekali-kali berniat hendak berpihak kepada siapapun dan aku tidak berharap kepada siapapun dalam soal agama.”

Sampai di sini jelas terlihat bahwa Abu Hanifah tak silau dengan seorang raja atau khalifah. Ia tak hendak membela siapapun, yang ia bela adalah kebenaran. Namun di sisi lain ia sendiri selalu berpesan, “Pendapat kami adalah salah satu pendapat dan jika didapat pendapat lain yang lebih baik dan tepat, maka pendapat itulah yang lebih benar dan utama.”[Fathuri SR]

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Kisah yang perlu diragukan kebenarananya..
googling aja gan..majalah syir'ah ini..

2:18 PM  

Post a Comment

<< Home