Tuesday, March 22, 2005

Indeks #40, Maret 2005


Model Cantik Itu Bernama Fiksi Islami

Banyak penerbit buku Islam awalnya hanya menerbitkan buku-buku nonfiksi. Kini, dengan daya tarik fiksi islami yang laris manis di pasaran, ramai-ramai penerbit membuat divisi khusus untuknya.

Syir'atuna, Maret 2005

GADIS berjilbab itu sedang membuka-buka majalah. Mimik wajahnya serius. Ada empat bundel majalah yang menumpuk di meja, selain satu bundel yang masih ia baca. Usai dengan satu bundel, ia ambil bundel yang lain. Kadang, di sudut bibirnya nampak senyum tersungging, menunjukkan baris giginya yang putih.

Siti Aminah, alumni Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, ini baru saja diangkat menjadi editor redaksi seksi remaja di penerbit Gema Insani Press (GIP), yang kantor barunya berada di Jalan Ir H Juanda, Kota Depok, Jawa Barat. Sementara kantor lamanya ada di Kalibata, Jakarta Selatan... Lanjutkan


Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra dari Universitas Indonesia
Di Indonesia, Sebutan Sastra Islami Agak Rumit

Syir'atuna, Maret 2005

Karya sastra yang tergolong “fiksi islami” banyak bermunculan. Namun, mengapa kritik “sastra islami” sama sekali tidak terdengar?
Sebenarnya kemerosotan untuk kritik sastra bukan hanya pada karya “sastra islami” tapi juga pada hampir semua karya sastra yang muncul di Indonesia. Khusus untuk kritik sastra yang bernafaskan Islam pada tahun 1970-an itu ramai sekali. Entah mengapa akhir-akhir ini terjadi kemerosotan.

Karya yang digolongkan “sastra islami“ umumnya dimasukkan dalam kategori sastra remaja. Apa yang dilahirkan, misalnya, oleh Forum Lingkar Pena dan majalah An-Nida, pastilah tidak hanya dalam kategori remaja, tetapi label remaja Islam ini yang kemudian seolah-olah memberikan bahwa karya itu karya remaja.

Buat saya label itu tidak kemudian membuat kita tidak mau mendalami karya-karya itu. Persoalannya memang terlalu banyak karya yang muncul tetapi terlalu sedikit yang mengkritiknya. Ini yang menjadi beban diri kritikus.... Lanjutkan


Terhormat Meski Tanpa Jilbab

Najwa Shihab punya prinsip sendiri tentang jilbab. Bagi dia, hati “berjibab” lebih baik daripada sekadar jilbab kepala.

Profil, Maret 2005

TAK SULIT menjumpai Najwa Shihab. Hampir saban hari dia muncul di stasiun MetroTV. Selama kariernya di televisi itu, yang paling mengharukan saat Nana, sapaan karibnya, melaporkan kondisi Aceh pasca-Tsunami akhir Desember lalu. Awal mula dia memberi laporan, meski tampak tegar tapi akhirnya tak kuasa menahan linangan air mata. Nana menangis.

Saat bertolak ke Aceh, 27 Desember, Nana berniat menggelar talkshow Today’s Dialog di sana. Nana, yang juga co-produser program itu, sebenarnya telah mempersiapkan talkshow lengkap dengan krunya. Tapi, karena keterbatasan sarana, hari pertama Nana melaporkan hasil liputannya cuma via telepon. Laporan langsung lewat satelit baru bisa dilakukannya hari kedua.... Lanjutkan


Abu Hanifah dan Para Raja

Pemikiran fikih Abu Hanifah dikenal sebagai kiblat Mazhab Hanafi. Di sisi lain, dalam hidupnya, ia banyak memberi contoh cara menghadapi pemerintah.

Khazanah, Maret 2005

LELAKI itu dikawal masuk istana. Wajahnya yang hitam kemerahan tampak bersih dan semakin cerah berseri dengan sorban berwarna putih menghiasi kepalanya. Di dalam, Abu Ja’far Al-Mansur, khalifah kedua dinasti Abbasiyah, menunggu. Sepertinya laki-laki itu menjadi tamu agung sang khalifah.

Keduanya saling berhadapan. Tak berapa lama Khalifah menyampaikan maksud hatinya. “Wahai Abu Hanifah, demi Allah engkau harus menerima diangkat menjadi qadli,” kata Khalifah. Khalifah sangat yakin Abu Hanifah akan menerima tawarannya... Lanjutkan


Kubur Penuh Cahaya

Kisah, Maret 2005

SEWAKTU ia dikuburkan, hanya sedikit orang yang mengiringi dan mengantarkannya. Ya, itu pun para tetangga dan kerabat dekatnya. Maklumlah, ia hanya seorang kecil yang tak berharta dan tak punya kuasa. Ia sama sekali bukan orang hebat dan terkenal.

Tetapi sehari setelah penguburannya itu, namanya langsung melambung ke seantero desa. Tiga hari setelah itu keterkenalan namanya sudah berhembus melewati batas-batas desa, menembus udara kecamatan, dan lantas masuk ke kantor-kantor, rumah-rumah, dan warung-warung di kota kabupaten. Dan seminggu kemudian, namanya sudah menghiasi pembicaraan warga seluruh propinsi itu. Di pasar dan masjid, orang ramai membincangkannya.

“Siapa sebenarnya orang itu?” tanya orang-orang.

“Kuburnya mengeluarkan cahaya.” Lanjutkan

Model Cantik Itu Bernama Fiksi Islami

Banyak penerbit buku Islam awalnya hanya menerbitkan buku-buku nonfiksi. Kini, dengan daya tarik fiksi islami yang laris manis di pasaran, ramai-ramai penerbit membuat divisi khusus untuknya.

Syir'atuna, Maret 2005

GADIS berjilbab itu sedang membuka-buka majalah. Mimik wajahnya serius. Ada empat bundel majalah yang menumpuk di meja, selain satu bundel yang masih ia baca. Usai dengan satu bundel, ia ambil bundel yang lain. Kadang, di sudut bibirnya nampak senyum tersungging, menunjukkan baris giginya yang putih.

Siti Aminah, alumni Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, ini baru saja diangkat menjadi editor redaksi seksi remaja di penerbit Gema Insani Press (GIP), yang kantor barunya berada di Jalan Ir H Juanda, Kota Depok, Jawa Barat. Sementara kantor lamanya ada di Kalibata, Jakarta Selatan.

Pekerjaan pertama Siti Aminah yang lebih akrab dengan panggilan Mimin ini adalah mencari naskah berupa karya fiksi islami untuk kemudian diedit dan dikirim ke divisi penerbitan.

Berbagai karya fiksi islami yang telah diterbitkan oleh berbagai penerbit ia jelajahi. Ia baca dan pelajari. Majalah An-Nida yang memuat berbagai cerpen islami juga menjadi sasarannya. Tidak tanggung-tanggung ia pesan lima bundel An-Nida dari edisi terakhir. Setelah ia bolak-balik isi majalah tersebut pilihannya jatuh pada cerpen-cerpen karya Pipiet Senja, salah satu penulis handal Forum Lingkar Pena (FLP).

Selain cerpennya bagus, karya Pipiet dipilih karena ia dinilai sudah memiliki nama di kalangan pembaca. Akhirnya kumpulan cerpennya diterbitkan dengan judul Rembulan Sepasi. Waktu itu memasuki bulan November 2001.

“Pihak pimpinan perusahaan pada waktu itu melihat bahwa karya-karya fiksi islami memiliki prospek yang cukup baik,” tutur Mimin kepada syir’ah saat ditemui di kantornya, akhir Februari lalu. Di pasaran banyak beredar buku-buku fiksi islami. Penulisnya mayoritas berasal dari Forum Lingkar Pena, di antaranya Pipiet Senja, Gola Gong, dan Helvy Tiana Rosa.

Melihat peluang ini pengembangan bisnis pun dilakukan dengan membuka seksi remaja. “GIP senantiasa memperhatikan perkembangan zaman,” kata Iwan Setiawan, General Manager GIP. Iwan menambahkan bahwa GIP selalu belajar dari penerbit-penerbit yang sudah berhasil.

Mizan, misalnya, sejak tahun 1999 telah mulai membuat divisi khusus untuk karya fiksi ini, yaitu Divisi Anak dan Remaja yang disingkat DAR Mizan. “Waktu itu kita prihatin dengan karya fiksi yang tujuannya baik, tapi cara penyampaiannya kurang baik,” ujar Ali Muakhir, Manajer Redaksi DAR Mizan kepada syir’ah.

Akhirnya dibuatlah rumusan fiksi ala Mizan. “Rumusan ini selalu dicantumkan dalam buku fiksi yang kami terbitkan,” tutur Ali. Rumusan itu berbunyi: fiksi yang mengandung nilai-nilai islami, yang ringan, lincah, tetapi tetap berbobot.

Adapun GIP memang tidak memiliki bagian riset dan pengembangan, tetapi biasanya menyewa orang-orang untuk mengevaluasi manajemen penerbitannya. “Ketika ramai perang Afganistan, kita menerbitkan buku tentang perang Afganistan,” kata Iwan. “Sekarang sedang ramai-ramainya buku fiksi islami, kita pun menerbitkan itu,” sambungnya. Sebelumnya GIP telah menerbitkan banyak sekali buku dengan tema-tema yang awet seperti tema wanita dan keluarga, juga tema-tema keagamaan yang dibuat secara populer.

Semua ini semata-mata pertimbangan bisnis. “Penerbit sebagai badan usaha yang menghidupi banyak karyawan juga harus benar-benar memikirkan persoalan itu (bisnis),” kata Ali. Dan hasilnya hingga sekarang DAR Mizan telah menerbitkan dari tahun 1999 hingga bulan Februari 2005 sudah terbit 108 Judul. Meliputi novel komik remaja, novel remaja islami (NORI), dan kumpulan cerpen (Kumcer) islami.

Dari sisi format, kalau DAR Mizan memformulasikannya dengan kata ringan dan lincah, GIP menyebutnya dengan gaya yang sederhana. “Bahasa yang dibuat adalah bahasa-bahasa yang sederhana, tidak mengajari, bisa dibaca dari anak SMA sampai mahasiswa,” papar Iwan. Makanya, tema yang dipilih adalah tema-tema mengenai keluarga muslim, wanita, remaja, dan perkembangan dunia Islam yang membangkitkan solidaritas Islam.

Untuk seksi remaja pada perkembangannya tidak hanya menerbitkan kumpulan cerpen, tetapi juga berbagai jenis novel, mulai novel biasa, novel serial, hingga novel berjenis komik. Perkembangan itu muncul berkat berbagai jenis naskah yang masuk kepada penerbit GIP.

Namun tak semuanya berjalan mulus. Ada jenis produk yang kemudian dianggap gagal. Ukuran gagal, bagi GIP, adalah jika produk itu tidak direspons pasar dengan baik. “Novel komik itu termasuk yang gagal,” kata Mimin, sambil menunjuk novel komik Kidung Kembara yang ditulis oleh Pipiet Senja. Akhirnya novel berjenis komik itu kemudian tidak lagi diterbitkan.

Buku-buku fiksi islami ini pun belum mencatat rekor sebagai buku terlaris. Bagi GIP, buku yang disebut buku terlaris adalah buku-buku yang telah mencapai seratus ribu kopi. Sepanjang sejarah GIP baru sekitar delapan judul buku yang telah tercatat sebagai buku terlaris. Semuanya tentang buku yang masuk seksi wanita dan keluarga dan tata cara ibadah. “Memang tema-tema wanita dan keluarga dan tema-tema tata cara ibadah adalah tema yang awet dan selalu cetak ulang,” ungkap Iwan.

Khusus kepada penulis dalam persoalan naskah tulisan yang disepakati untuk diterbitkan, GIP menganjurkan untuk menerima royalti, alih-alih beli putus. “Karena royalti kan lebih fair. Karena kita tidak tahu buku itu laris atau tidak. Kalau laris kan manfaatnya bisa untuk penulis juga,” papar Mimin.

Royalti yang diterima pun cukup beragam berdasarkan produktivitas dan kesenioran dari penulis tersebut. Untuk pemula royaltinya 10 persen sedangkan yang paling produktif dan senior 15 persen.

GIP berusaha memperlakukan penulis sebaik mungkin. “Tetapi tidak bisa membuat penulis kaya raya seperti di Barat,” Mimin menambahkan. GIP mempermudah bagi penulis yang tidak mampu untuk mengirimkan tulisannya dalam bentuk yang sederhana. “Bahkan pernah FLP Aceh mengirimkan tulisan mereka dalam bentuk fotokopian,” ujarnya. Tulisan itu kemudian diterbitkan jadi sebuah kumpulan cerpen berjudul Senja di Baiturrahman.

Tulisan yang masuk ke penerbit biasanya diseleksi dalam waktu satu bulan. Setelah itu penulis langsung mendapatkan jawabannya, apakah tulisannya diterima ataukah tidak.

Di antara pertimbangan yang digunakan adalah segmentasi pembaca. Misalnya untuk segmen remaja, disyaratkan bahasa penyampaiannya mudah dicerna oleh remaja. Kemudian penulis juga menyampaikan selling point atau segi perbedaan karyanya dengan karyanya yang lain, atau dengan kata lain sisi menariknya di mana.

Selain itu juga GIP sebagai penerbit Islam mensyaratkan materi tulisan tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam. “Meskipun tidak secara langsung menyebutkan islami, tetapi pada inti ceritanya adalah islami,” tegas Mimin. Bahkan jika itu tentang seks, kata Mimin, asalkan diarahkan secara islami. Tidak mendorong kepada pembacanya untuk melakukan seks bebas.

Mimin memaklumi bahwa fiksi islami ataupun tidak sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Mana karya yang disebut fiksi islami dan mana yang tidak. Untuk mengatasinya, GIP menentukan sendiri batasan islami tersebut. “Bisa saja tulisan (Leo) Tolstoy disebut dengan fiksi islami jika di dalamnya mengusung nilai-nilai islami,” katanya.

Walau demikian Mimin belum berani berinisiatif untuk menerbitkan karya pengarang asing non-Islam. “Meskipun tema besarnya bagus (islami) karena ada budaya mereka yang kurang islami, jadi tidak berani. Sedangkan, hal itu tidak bisa dihilangkan dalam karya tersebut, itulah kendalanya,” katanya. [Annuri F. Hadi]

Di Indonesia, Sebutan Sastra Islami Agak Rumit

Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra dari Universitas Indonesia

Syir'atuna, Maret 2005

Karya sastra yang tergolong “fiksi islami” banyak bermunculan. Namun, mengapa kritik “sastra islami” sama sekali tidak terdengar?
Sebenarnya kemerosotan untuk kritik sastra bukan hanya pada karya “sastra islami” tapi juga pada hampir semua karya sastra yang muncul di Indonesia. Khusus untuk kritik sastra yang bernafaskan Islam pada tahun 1970-an itu ramai sekali. Entah mengapa akhir-akhir ini terjadi kemerosotan.

Karya yang digolongkan “sastra islami“ umumnya dimasukkan dalam kategori sastra remaja. Apa yang dilahirkan, misalnya, oleh Forum Lingkar Pena dan majalah An-Nida, pastilah tidak hanya dalam kategori remaja, tetapi label remaja Islam ini yang kemudian seolah-olah memberikan bahwa karya itu karya remaja.

Buat saya label itu tidak kemudian membuat kita tidak mau mendalami karya-karya itu. Persoalannya memang terlalu banyak karya yang muncul tetapi terlalu sedikit yang mengkritiknya. Ini yang menjadi beban diri kritikus.

Dari sisi kualitas apakah karya-karya itu tidak sebanding dengan karya sastra yang lain?
Sebetulnya banyak juga yang kualitasnya sama dengan karya sastra yang lain. Pesan moralnya dibungkus secara sembunyi sehingga menunjukkan bahwa karya itu matang. Beberapa yang ditulis Asma Nadia atau Helvy Tiana Rosa juga sudah mulai matang. Karena itu kalau disandingkan dengan karya sastra pada umumnya tidak kalah secara kualitas.

Sebenarnya sosok sastra islami itu bagaimana?
Penyebutan sastra islami kalau di Indonesia memang agak rumit. Pengertian Islam di Indonesia itu beda dengan di Arab dan di tempat-tempat lain. Islam di Indonesia tidak terlepas persoalan kultur etnik yang ada.

Karena kalau misalnya karya Danarto dimasukkan dalam sastra Islam akan berbeda dengan karya Ibnu Thufail atau dengan karya sastrawan sufi lainnya. Karena itu cap Islam untuk karya di Indonesia itu rumit karena berkaitan dengan kultur etnik.

Bagi saya, yang perlu kita kembangkan adalah bagaimana karya itu bernafaskan Islam. Sehingga karya itu bisa ditarik ke sana kemari. Bisa dimaknai secara luas, tidak sempit.

Kalau begitu, sastra yang bernafaskan Islam itu seperti apa?
Problemnya pada konteks. Ketika kita bicara pada isi akan terbuka peluang terjadi kontroversi. Berbeda dengan di Malaysia. Karya sastrawan di sana bersifat homogen, dan konsep sastra Islam itu sudah ada rambu-rambunya. Pertama, penulisnya beragama Islam. Kedua, karya itu dibuat dalam rangka pengabdian kepada Tuhan. Ketiga, masukan dari karya tersebut bermanfaat untuk kemanusiaan.

Tiga konsep itu yang digunakan untuk batasan sastra Islam di Malaysia. Menurut saya, batasan-batasan itu kan masih sangat umum sifatnya. Bagaimana kita mengukur penulisnya diniatkan untuk pengabdian kepada Allah? Kemudian pengertian kemaslahatan untuk umat itu batasannya juga tidak begitu jelas.

Tetapi itu disepakati oleh mereka. Kemudian muncullah karya-karya yang menggambarkan suasana Islam. Tokoh-tokoh yang membincangkan Al-Quran, sembahyang dan sebagainya.

Karena itu saya pribadi lebih suka menempatkan karya-karya itu sastra yang bernafaskan Islam. Bahwa Islamnya masih berkaitan dengan tasawuf Jawa atau mistik Jawa, misalnya, itu tidak masalah.

Banyak penulis nonmuslim yang karyanya bernafaskan Islam, bagaimana menurut anda?
Saya kira syarat harus ditulis orang Islam mengandaikan bahwa orang bersangkutan mendalami Islam. Atau memiliki pengalaman dalam Islam dan dia sendiri segalanya sebagai bagian dari Islam.

Jadi syarat pertama tentu saja mutlak. Karena karya itu lahir dari sebuah pengalaman. Bagaimana mungkin orang non-Islam mempunyai pengalaman islami. Bahwa kemudian karya itu bernafaskan Islam itu bukan masalah. Hal ini malah menunjukkan bahwa kebenaran Islam bersifat universal, dan itu bisa saja ditemukan dalam sastra dunia yang lain. Karena itu ketika sastra dunia ditempatkan dalam sastra Islam itu harus dipertanyakan dulu. Ia mempunyai pengalaman Islam atau tidak?

Berbeda dengan para sastrawan sufi. Mereka memiliki intensitas pengalaman islami dan itu diejawantahkan dalam bahasa sastra. Dalam pandangan saya, ini sastra bernafaskan Islam, atau menurut Abdul Hadi WM, ini sastra yang ditulis orang sufi yang memang punya pengalaman sufistik.

Apakah anda setuju dengan istilah sastra islami?
Persoalannya bukan setuju atau tidak. Istilah itu boleh-boleh saja. Kita menghargai juga munculnya istilah itu. Namun yang harus menjadi perhatian kita adalah apakah konsep itu diikuti dengan karya yang sesuai?

Dengan demikian konsep itu menjadi sesuatu yang riil karena ada karyanya. Ketika kita memunculkan sebuah konsep sastra islami maka harus ada pendukungnya yang mengusung sastra Islam.

Sebetulnya tanpa ada istilah sastra Islam pun kalau kita misalnya mengkaji sastra, misalnya karya Hamzah Fansuri, atau sastra yang lahir pada 1970-an, dan yang lain, itu semuanya bersuasana Islam. Karena tanpa istilah itu pun sastrawan kita sudah sangat concern terhadap keislamannya.

Coba lihat karya Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka. Di sana suasana Islamnya sangat kental.

Mungkin yang harus kita angkat adalah keterpinggiran karya-karya seperti itu. Dulu, peminggiran itu dilakukan secara sistematis dilakukan oleh Belanda. Karena itu karya-karya Hamka, misalnya, tidak begitu banyak dibincangkan oleh kritikus Barat. Atau karya Muhammad Diponegoro, Jamil Suherman, dan Kuntowijoyo, tidak diangkat dalam kategori sastra Islam, namun Indonesia saja. Padahal kental sekali suasana Islamnya.

Jadi, yang harus kita angkat adalah bagaimana sastrawan muslim dilihat secara proporsional dan tidak dimarginalkan. Makanya dalam buku pelajaran sekolah tidak ada pembahasan tentang sastrawan muslim. Tidak ada sastra yang membicarakan suasana Islam atau tidak dikaitkan dengan keimanan Islam. Semua disebut sastra Indonesia saja. Semuanya menjadi sekuler. Bukannya kita harus mengangkat sastrawan muslim secara berlebihan, tapi ia ditempatkan secara proporsional. [Fathuri SR]

Terhormat Meski Tanpa Jilbab

Najwa Shihab punya prinsip sendiri tentang jilbab. Bagi dia, hati “berjibab” lebih baik daripada sekadar jilbab kepala.

Profil, Maret 2005

TAK SULIT menjumpai Najwa Shihab. Hampir saban hari dia muncul di stasiun MetroTV. Selama kariernya di televisi itu, yang paling mengharukan saat Nana, sapaan karibnya, melaporkan kondisi Aceh pasca-Tsunami akhir Desember lalu. Awal mula dia memberi laporan, meski tampak tegar tapi akhirnya tak kuasa menahan linangan air mata. Nana menangis.

Saat bertolak ke Aceh, 27 Desember, Nana berniat menggelar talkshow Today’s Dialog di sana. Nana, yang juga co-produser program itu, sebenarnya telah mempersiapkan talkshow lengkap dengan krunya. Tapi, karena keterbatasan sarana, hari pertama Nana melaporkan hasil liputannya cuma via telepon. Laporan langsung lewat satelit baru bisa dilakukannya hari kedua.

Turun dari pesawat rombongan wakil presiden di Blang Bintang, Banda Aceh, Nana belum merasakan atmosfer kematian. Dia mencium bau anyir darah baru setelah sampai di Lambaro, Aceh Besar. Di daerah inilah dia melaporkan kondisi yang dia lihat. Mayat-mayat berserakan. Orang yang masih hidup pun terlihat bingung. Mereka mencari keluarga dan sanak saudara. Nana mengatakan, belum pernah melihat orang sedemikian putus asa. Saat itulah Nana melakukan reportase diiringi tangisan.

Di sana Nana hanya lima hari. Tanggal 31, bersama rombongan wakil presiden dia kembali ke Jakarta. Pekan pertama setelah peristiwa, dia belum mendengar isu kristenisasi. “Isu kristenisasi setelah saya di sini, waktu saya di sana tidak terdengar. Memang ada Worldhelp yang konon mengajak anak-anak keluar Aceh,” ungkap putri kedua Quraish Shihab itu.

Di sana, kata Nana, banyak sekali isu yang berkembang, karena tak ada komando, tak ada pusat informasi yang jelas. Komunikasi lumpuh. Jadi orang gampang sekali diprovokasi oleh berbagai isu. Menurut dia, kalau memang kristenisasi ada itu sangat tercela. Dalam kondisi darurat orang masih sempat mengurusi agama. “Tapi saya percaya, orang Aceh tidak semudah itu berubah keyakinan, hanya karena diberi bantuan,” ujarnya.


LIPUTAN lima hari itu tak sia-sia. Berkat liputannya itu, pada 2 Februari 2005 lalu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya memberi penghargaan PWI Jaya Award. Menurut sekretaris PWI Jaya Akhmad Kusaeni, liputan Nana dan presenter teve-teve lain betul-betul telah membuat Indonesia menangis.

Bukan hanya PWI Jakarta yang menganugerahi Nana, pada Hari Pers Nasional (HPN) yang dilangsungkan di Pekanbaru, Riau 9 Februari lalu, Nana meraih penghargaan HPN Award. PWI pusat menilai, Najwa Shihab adalah wartawan pertama yang memberi informasi tragedi tsunami secara intensif.

Pujian untuk Nana pun meluncur dari pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, Effendy Gazali. Dia menyitir judul film drama komedi terkenal Amerika, Kramer Vs Kramer yang dianalogikannya menjadi “Shihab Vs Shihab”.

Shihab pertama adalah Najwa Shihab, kedua Alwi Shihab, yang masih punya hubungan saudara dengan Nana. “Najwa mengkritik penanganan bencana yang dilakukan pemerintah yang diwakili oleh Menko Kesra Alwi Shihab,” kata Effendy Ghazali. Dalam reportasenya, Najwa menyampaikan bahwa bantuan terlambat dan tak terkoordinasi, sementara mayat-mayat bergelimpangan tidak tertangani.

“Shihab Vs Shihab”, kata Effendy, untuk menggambarkan bagaimana Najwa Shihab sebagai wartawan tetap garang dalam menyuarakan kepentingan publik dan korban tsunami di Aceh.


WANITA kelahiran 16 september 1977 ini hidup dalam keluarga religius. Nana kecil, saat di Makasar, sudah masuk TK Al-Quran. Dia masih ingat betul, kalau melakukan kesalahan, sang guru memukulnya dengan kayu kecil. Sekolah Dasar di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hidayah (1984-1990), lalu SMP Al-Ikhlas, Jeruk Purut, Jakarta Selatan, pada 1990-1993. Aktivitas sampai SMU, dipimpin ibunya, Nana dengan lima orang saudaranya sejak magrib harus ada di rumah. “Jadi berjamaah magrib, ngaji Al-Quran, lalu ratib Haddad bersama. Itu ritual keluarga sampai saya SMU.” Setelah kuliah, karena banyak kegiatan, Nana baru boleh keluar setelah magrib.

Keluarganya memang sangat memprihatikan faktor pendidikan. “Pendekatan pendidikan di keluarga tidak pernah dengan cara-cara yang otoriter. Saya rasa itu sangat mempengaruhi, bagaimana pola didik orang tua ke anak akan mempengaruhi perilaku,” ujarnya.

Pendidikan, bagi keluarga Shihab, adalah nomor wahid, tidak bisa ditawar-tawar. Dulu waktu kelas dua SMU, Nana dapat kesempatan AFS (America Field Service), program pertukaran pelajar ke Amerika. Sempat keluarga menolak karena harus melepas selama setahun anak cewek yang baru usia 16 tahun tinggal di keluarga asuh. “Sempat terjadi perdebatan keluarga. Waktu itu yang paling mendukung ayah saya. Apa pun untuk pendidikan akan diperbolehkan, dalam usia itu pun beliau sudah memberikan kepercayaan, walaupun di sana dia sudah dibekali agama, mereka percaya shalatnya tidak akan ditinggal. Dan alhamdulillah saya bisa menjaga kepercayaan itu,” cerita Nana.

Quraish Shihab, pakar tafsir itu, bagi Nana, adalah sosok bapak yang santai. “Seneng joke-joke Abu Nawas, ketawa-ketawa,” kisahnya. Jadi beliau, kata Nana, membebaskan pilihan kepada anak-anaknya untuk sekolah ke mana saja.

Tidak hanya persoalan pendidikan, kebebasan juga diberikan oleh sang bapak untuk menentukan pasangan hidupnya. “Bahkan saat saya memutuskan untuk nikah muda, 20 tahun, ayah memberi kepercayaan. Bagi beliau yang penting kuliah selesai.” Menjelang pernikahan, kata Nana, keluarga sempat ragu, tapi karena pengalaman kakak yang nikah saat usia 19 tahun akhirnya diizinkan. Tapi sebelum itu mereka sekeluarga umroh dulu. “Di sana ayah bertanya, ‘udah mantep?’ saya jawab, ‘udah’. Ya sudah diizinkan,” tutur Nana.


KENDATI dalam keluarga religius, soal pakai jilbab tak menjadi keharusan. Menurut Nana, kalau orang pakai jilbab itu bagus, kalau tak berjilbab juga tidak apa-apa. “Saya sih seperti itu dan saya percaya itu.”

Karena memang, kata Nana, alasan ayahnya yang lebih penting adalah terhormat. Karena bukan berarti yang berjilbab tidak terhormat dan yang berjilbab sangat terhormat, karena kan masih banyak interpretasi tentang hal itu. Menurut Nana, yang penting tampil terhormat dan banyak cara untuk terhormat selain dengan jilbab. “Tidak pernah ada keharusan untuk berjilbab,” ucapnya.

Dengan cara berpakaian seperti itu, kata Nana, tak pernah ada yang komplain. “Karena mungkin melihat ayah, kalau ditanya orang pendapatnya membolehkan, membebaskan berjilbab atau tidak. Jadi banyak alasan dari ayah saya. Kalau ada yang komplain, paling pas bercanda. Dan saya selalu bilang: ya insyaallah mudah-mudahan suatu saat. Yang pasti hatinya berjilbab kok.”

Nana kagum pada yang pakai jilbab dan menutup aurat. Dia ingin juga pakai jilbab, mungkin suatu saat. “Sampai saat ini saya tidak merasa ada kewajiban atau beban untuk berjilbab,” katanya, “Karena sejauh saya bisa menjalankan kewajiban saya sebagai muslimah tidak masalah berjilbab atau tidak.”

Meski kini ada rekan reporter yang mengenakan jilbab, Nana tidak terpengaruh. Sampai saat ini, dia merasa apa yang dilakukannya sudah berada pada jalur yang benar. Kalau nanti ada hidayah lebih lanjut, atau kemantapan memakai jilbab, tanpa ragu Nana akan memakainya. “Apa yang dilakukan orang kan bukan berarti kita akan terpengaruh. Kalau sekarang ada yang berjilbab kemudian saya ikut. Menurut saya, rugi kalau berjilbab alasannya itu,” ujarnya. [Banani Bahrul-Hassan, Imam Shofwan]

Abu Hanifah dan Para Raja

Pemikiran fikih Abu Hanifah dikenal sebagai kiblat Mazhab Hanafi. Di sisi lain, dalam hidupnya, ia banyak memberi contoh cara menghadapi pemerintah.

Khazanah, Maret 2005

Lelaki itu dikawal masuk istana. Wajahnya yang hitam kemerahan tampak bersih dan semakin cerah berseri dengan sorban berwarna putih menghiasi kepalanya. Di dalam, Abu Ja’far Al-Mansur, khalifah kedua dinasti Abbasiyah, menunggu. Sepertinya laki-laki itu menjadi tamu agung sang khalifah.

Keduanya saling berhadapan. Tak berapa lama Khalifah menyampaikan maksud hatinya. “Wahai Abu Hanifah, demi Allah engkau harus menerima diangkat menjadi qadli,” kata Khalifah. Khalifah sangat yakin Abu Hanifah akan menerima tawarannya.

Namun sang Khalifah kecele. “Maaf beribu maaf, Tuanku. Saya tidak sanggup menerima jabatan itu,” jawab Abu Hanifah tegas. Al-Rabi’i, pembantu Khalifah, turut bicara, “Tidakkah engkau pikir bahwa Amirul Mukminin telah bersumpah?” Abu Hanifah menjawab, “Hendaklah Amirul Mukminin membayar kifarat (denda sumpah) dan tentu beliau lebih berkuasa dariku.”

Secara tidak langsung Abu Hanifah menyatakan bahwa Khalifah telah melanggar sumpahnya karena ia tidak bersedia menjadi hakim. Akhirnya Abu Hanifah ditahan. Tidak lama Abu Hanifah dipanggil kembali.

Khalifah menegaskan kembali tawarannya. “Aku tidak pantas menjadi qadli,” hanya jawaban itu yang didengar. Khalifah menimpali, “Engkau bohong.”

“Amirul Mukmimin telah menghukum saya karena tidak mau menjadi qadli. Tuanku juga telah menuduh saya berbohong. Jika saya seorang pendusta tentulah tidak pantas (menjadi qadli) dan jika saya seorang yang benar sesungguhnya saya telah mengatakan kepada Amirul Mukminin bahwa saya tidak cocok menjadi qadli.”

Begitulah keteguhan hati Abu Hanifah yang bernama asli Nu’man bin Tsabit. Ialah pendiri salah satu mazhab fikih terbesar Suni, Mazhab Hanafi. Lahir di Kufah pada tahun 80 Hijriyah atau 659 Masehi. Keluarganya adalah pedagang keturunan dari salah satu sahabat Nabi Muhammad yaitu Salman Al-Farisy.

Waktu itu Kufah dikenal sebagai salah satu kota pelajar dan pusat pengetahuan. Pusat-pusat pendidikan berada di masing-masing pondokan para syaikh atau guru. Berbagai macam disiplin ilmu dipelajari di sana, terutama ilmu hadis. Menginjak usia remaja Nu’man belum menjadi salah satu santri di salah satu pondokan itu. Kadang-kadang saja ia lewat pondokan Syaikh Ash’abi, yang dianggap sebagai ulama besar waktu itu.

Suatu ketika saat Nu’man lewat ia dipanggil oleh Asha’bi. “Mau kemanakah engkau, anak muda?” tanya Asha’bi. Nu’man tidak menjawab. Asha’bi kembali berkata, “Aku hanya ingin bertanya.” Nu’man tetap terdiam.

“Apakah kamu salah satu murid dari pondokan di sini atau pondokan guru yang lain?” tanya Asha’bi kembali. Ditanya demikian, Nu’man dengan malu-malu menjawab, “Saya bukan santri siapapun, ya Syaikh.”

Asha’bi kaget. Ia hanya geleng-geleng kepala. “Saya melihat tanda-tanda kecerdasan dalam dirimu,” kata Asha’bi lalu diam sejenak. “Mulai sekarang kamu harus bergabung dengan para santri lain dan belajar dengan tekun. Kamu tidak boleh menyia-nyiakan bakatmu.”

Mulai sejak itu Nu’man tekun mencari ilmu, bahkan kemudian ia belajar kepada empatratus orang lebih guru.

Pada usia duapuluh dua tahun, ia aktif di majelis ilmu yang dimiliki oleh Syaikh Hammad bin Sulaiman. Ia belajar bagaimana menjadi pendebat terbaik dan juga pengetahuan tentang fikih dan ushul fikih. Di majlis ini ia terus belajar sampai Syaikh Hammad meninggal.

Dengan kecerdasannya pada usia empatpuluh tahun, Nu’man menggantikan Syaikh Hammad menjadi pengajar di majlis tersebut. Namun dengan kecerdasan itu, ia menunjukkan kerendahhatiannya.

Abu Yusuf, sahabat dekat Abu Hanifah, bercerita: Ibunda Abu Hanifah meminta kepada Abu Hanifah untuk pergi menghadiri majelis Umar bin Zar dengan mengendarai keledai. Ia disuruh untuk menanyakan beberapa masalah kepada Umar.

Saat ia sudah berjumpa dengan Umar ia langsung mengajukan beberapa masalah yang telah dipesankan kepadanya. Umar heran karena ia tahu bahwa pengetahuan Abu Hanifah lebih mumpuni dibanding dirinya. “Kenapa engkau bertanya kepadaku?” kata Umar. “Karena ibuku menyuruhku bertanya,” jawab Abu Hanifah.

“Engkau bertanya padaku tentang masalah, padahal engkau lebih mengetahui,” kata Umar. Tapi lagi-lagi Abu Hanifah menjawab dengan jawaban sama. “Karena ibuku menyuruhku,” katanya.

“Baiklah, sekarang aku memintamu menjawab pertanyaanmu tadi supaya nanti aku beritahukan kepadamu,” ujar Umar memberi solusi. Kemudian Abu Hanifah menjelaskan duduk persoalannya dan semuanya diulang Umar.

Abu Hanifah pun pulang ke rumah dan menceritakan kepada ibuya tentang jawaban Umar.


BARANGKALI sedikit diketahui orang bahwa perhatian Abu Hanifah terhadap pemerintahan tidak kalah saat ia bicara tentang fikih. Ia selalu menasihatkan kepada muridnya tentang bagaimana berhubungan dengan birokrat.

Kisah yang ditulis di awal tadi menunjukkan bagaimana Abu Hanifah tak menghendaki agama dipegang penuh oleh pemerintah. Seorang ulama sebagai pewaris nabi dalam memangku agama tak seyogianya turut berada di belakang khalifah.

Hal itu juga tampak dalam nasihat-nasihatnya. Misalnya ia pernah berkata:

“Berhati-hatilah terhadap raja sebagaimana engkau berhati-hati terhadap api. Engkau tidak akan kepanasan saat menjauh darinya. Di kala engkau berdekatan dengan api engkau akan terbakar dan sakit. Raja-raja tidak akan berpikir tentang kebutuhan siapa melainkan hanya kepentingan dirinya.”

Meski dalam nasihat ini Abu Hanifah sepertinya apriori dengan raja tapi di lain pihak ia juga memberikan apresiasinya. “Hendaklah engkau taat dan memuliakan raja-raja. Jangan sekali engkau berdusta di hadapannya. Janganlah engkau menghadapnya setiap waktu melainkan raja itu memanggilmu untuk berbincang pengetahuan. Karena acapkali menghadap raja membuatmu terhina dan rendah dan raja akan memandang rendah kepadamu.”

Di lain pihak Abu Hanifah juga mengajak murid-muridnya untuk kritis terhadap pemerintah. “Jika engkau mengetahui bahwa sultan atau raja-raja melakukan suatu perbuatan tidak baik yang melanggar hukum agama beri tahu kepadanya dengan taat dan setia karena kekuasaan sultan atau raja lebih berkuasa daripada kamu. Beri tahu kepadanya dengan bijaksana seperti: ‘Saya taat dan setia kepada Tuanku, tetapi saya ingin memberitahu suatu perkara yang tidak baik dan tidak sesuai dengan agama.’”

Pernah suatu ketika Khalifah Al-Mansur berselisih paham dengan istrinya. Mereka berdua datang mengadu kepada Abu Hanifah. Akhirnya setelah mendengarkan keterangan masing-masing, Abu Hanifah memberi jawaban bahwa kemenangan ada di pihak istri Khalifah.

Sebagai ucapan terima kasih istri Khalifah, Ummu Musa, mengirimkan banyak hadiah kepada Abu Hanifah. Namun ternyata Abu Hanifah menolak dan berpesan kepada utusan istri Khalifah. “Sampaikan salamku kepada mereka berdua dan katakan kepada mereka bahwa aku berjuang karena Allah. Aku mengikuti apa yang diridlai Allah. Aku tidak sekali-kali berniat hendak berpihak kepada siapapun dan aku tidak berharap kepada siapapun dalam soal agama.”

Sampai di sini jelas terlihat bahwa Abu Hanifah tak silau dengan seorang raja atau khalifah. Ia tak hendak membela siapapun, yang ia bela adalah kebenaran. Namun di sisi lain ia sendiri selalu berpesan, “Pendapat kami adalah salah satu pendapat dan jika didapat pendapat lain yang lebih baik dan tepat, maka pendapat itulah yang lebih benar dan utama.”[Fathuri SR]

Kubur Penuh Cahaya

Cerpen Hairus Salim HS

Kisah, Maret 2005

SEWAKTU ia dikuburkan, hanya sedikit orang yang mengiringi dan mengantarkannya. Ya, itu pun para tetangga dan kerabat dekatnya. Maklumlah, ia hanya seorang kecil yang tak berharta dan tak punya kuasa. Ia sama sekali bukan orang hebat dan terkenal.

Tetapi sehari setelah penguburannya itu, namanya langsung melambung ke seantero desa. Tiga hari setelah itu keterkenalan namanya sudah berhembus melewati batas-batas desa, menembus udara kecamatan, dan lantas masuk ke kantor-kantor, rumah-rumah, dan warung-warung di kota kabupaten. Dan seminggu kemudian, namanya sudah menghiasi pembicaraan warga seluruh propinsi itu. Di pasar dan masjid, orang ramai membincangkannya.

“Siapa sebenarnya orang itu?” tanya orang-orang.

“Kuburnya mengeluarkan cahaya.”

“Kompleks pemakaman kampung itu menjadi terang. Padahal di situ tidak ada penerangan listrik sama sekali,” kata mereka lagi.

“Siapa sesungguhnya lelaki yang berkubur di situ?”

Orang-orang terus memburu jawaban, memenuhi rasa penasaran mereka. Dugaan-dugaan dan kabar cerita pun beredar untuk menangkap peristiwa yang aneh itu.

“Apakah ia seorang kiai atau guru agama? Himpunan pengetahuan makrifatnya tentu sangat mendalam!”

“Ah, bukan. Kabarnya ia hanya seorang pedagang kecil keliling.”

“Ya, itu yang tampak di permukaan. Tapi kita tidak tahu pasti siapa sebenarnya dia.”

“Siapa pun dia, yang pasti ia seorang wali.”


“SIAPAKAH lelaki yang kuburnya memendarkan cahaya itu?”

Sewaktu lelaki itu dikuburkan kabarnya hanya sedikit orang yang mengantarkannya. Waktu itu gerimis dan jalan menuju kuburan itu becek. Sedemikian tidak pentingnya lelaki itu, Kepala RT pun bahkan tak hadir dalam upacara penguburannya.

“Tetapi, kerandanya ringan sekali. Ini kata orang yang mengusungnya … lho,” kata orang itu meyakinkan ceritanya.

“Tanah kuburnya juga sangat gembur sewaktu digali.”

“Wah, sungguh luar biasa. Padahal tanah di daerah situ terkenal keras. Kan itu tanah perbukitan berbatu,” sahut yang lain.

“Apa benar kuburnya bercahaya? Jangan-jangan itu hanya permainan akal-akalan lewat teknologi listrik yang disalurkan dari bawah tanah?” tanya seseorang yang tampak belum percaya betul dengan kabar itu. Suaranya rendah penuh kehatian-hatian, khawatir menyinggung mereka yang sudah kadung percaya.

“Ya, sulit dipercaya memang.”

“Teman kita si Razak kabarnya kemarin sudah ke sana. Tapi, ia katanya sama sekali tidak melihat kubur itu memancarkan cahaya,” sambung seseorang.

“Ah, kalau si Razak yang berkunjung ke sana pasti tak akan bisa melihat cahaya itu, karena kepalanya sudah dipenuhi nomer judi buntut. Razak memang pemuja kuburan. Aku sudah menduga Razak ke sana, tapi ia pasti tak beroleh apa-apa, karena ia tak punya niat yang benar. Razak tak bisa kita percayai.”

“Ya, benar kubur itu memang membinarkan cahaya. Aku bersaksi, tapi jangan salah mengerti. Kubur itu tidaklah sepanjang malam memancarkan cahaya. Hanya sesekali,” seseorang yang tampaknya sudah mengunjungi kubur itu menyela.

“Sungguh, itu pun waktunya tidak lama. Sebentar sekali. Kadang bahkan hanya seperti kilatan cahaya,” sambungnya lagi.


KUBUR yang disebut-sebut memancarkan cahaya itu betul-betul menyita perhatian masyarakat. Meski mereka tidak tahu siapa sebenarnya orang yang berkubur di dalamnya, mereka tetap meyakini bahwa cahaya yang memancar dari kuburan itu sebagai karamah yang dianugerahkan Allah. Dan orang yang berkubur di dalamnya pastilah seorang yang karim juga di sisi Allah. Seorang wali. Maka, berduyun-duyunlah mereka berziarah ke sana untuk memetik berkah dari karamah itu.

Kampung yang semula sepi dan terpencil itu lalu mendadak menjadi ramai. Ribuan orang setiap hari datang ke sana. Jalan yang membentang menuju kampung itu sesak oleh deretan panjang parkir mobil. Halaman-halaman rumah dan tegalan kering disulap menjadi lahan parkir motor. Warung-warung makan serentak berdiri. Para penduduk sekitar juga membukakan pintu rumah mereka lebar-lebar buat para peziarah yang ingin beristirahat, mandi, atau buang hajat. Suasana sekitar pemakaman kampung itu penuh orang, sibuk dan riuh-rendah seperti layaknya makam wali-wali terkenal di pulau itu di saat perayaan haul mereka.

Tapi sampai sejauh itu tak ada seorang pun yang tahu siapa sebenarnya lelaki yang kuburnya mengundang kehadiran ribuan penziarah itu. Kabar tentangnya berhembus bagai angin. Terasa ada tapi tak tertangkap wujudnya. Hingga sebuah koran lokal melaporkan dalam sebuah featuresnya yang panjang. Siapa lelaki itu dan mengapa kuburnya penuh cahaya, begini menurut koran tersebut:

Lelaki itu bernama Hamad. Menurut cerita istri dan dua orang anaknya, ia seorang pedagang minyak keliling. Setiap hari ia pergi ke kota propinsi untuk menjajakan minyaknya. Tapi, baik istri maupun dua anak yang ditinggalkannya itu, tak sungguh-sungguh tahu apakah Hamad, suami dan ayah mereka itu, benar-benar seorang penjaja minyak keliling. Ini lantaran tak seorang pun dari mereka pernah melihat langsung ia berkeliling menjajakan minyaknya itu. Itu hanya jawabannya ketika setiap kali ditanya oleh istri, anak atau orang kampung tentang pekerjaannya di kota.

Hamad bukan asli kelahiran kampung itu. Konon, ia berasal dari daerah utara. Tak dijelaskan apa latar pendidikannya. Tapi yang terang ia cukup pandai membaca Latin maupun Arab.

Kehidupan ekonomi keluarga itu pas-pasan. Tidak berlebih tidak juga kekurangan. Untuk ukuran kampung itu, Hamad dan keluarganya jelas bukan dari golongan kaya. Tengah-tengah pun tidak, meski tidak juga keluarga miskin. Di rumahnya hanya ada seperangkat kursi tamu, sebuah televisi hitam putih dan radio. Semuanya sudah tua, namun masih terawat dengan baik dan jelas terus dipakai sehari-hari. Lalu, sebuah rak buku dan kitab yang tak ada isinya. Kata istrinya, dulu rak itu penuh dengan buku-buku dan kitab. Tapi sekitar tiga tahun yang lalu, kitab-kitab itu diangkut suaminya entah kemana. Apa mau dijual atau dihibahkan mereka juga tidak tahu persis. Hamad hanya bilang ada orang yang lebih membutuhkan.

Sebagai suami dan ayah, mereka memang mengakui Hamad sebagai seorang yang kasih, lembut, dan bertanggung jawab. Tapi lebih dari itu, ibu dan kedua anaknya itu tak melihat lelaki itu istimewa. Maksudnya, seorang yang terkemuka setidak-tidaknya untuk ukuran kampung itu. Dalam hal keagamaan misalnya, ia tak pernah menjadi imam, khatib jumat atau memimpin doa. Demikian juga dalam hal politik, ya politik tingkat kampunglah. Ia tak pernah memimpin rapat kampung, mengacungkan tangan untuk mengajukan usul, melakukan interupsi atau protes atau pun yang lainnya. Hamad dalam hal apapun betul-betul warga biasa. Memang dalam setiap pertemuan kampung selama tak ada aral ia selalu hadir. Tapi selalu saja ia duduk di pinggiran atau di luar sama sekali karena ia bukan dan memang tidak dianggap orang penting. Ia biasa shalat berjamaah, namun tidak rajin-rajin amat. Pengajian pun hanya sesekali ia datangi. Meski sesekali ikut, tapi ia tak larut dalam semangat keagamaan yang dipompa oleh para ustad muda berjenggot dan berpakaian putih-putih keluaran universitas yang kini mendominasi kehidupan keagamaan dan politik di kampung itu. Pendeknya tak ada yang hebat yang bisa dicatat darinya.

Tapi ada satu hal yang selalu diingat oleh orang kampung tentang Hamad. Ia orang yang tak pernah alpa takziah kalau ada tetangganya yang meninggal dan ziarah kalau ada tetangganya yang sakit. Siapapun mereka dan apapun partai dan golongannya. Mereka yang lebih sering kelihatan di warung yang di bagian belakangnya ada meja judi dan penjualan togel dan tak pernah tampak di masjid dan pengajian pun tak luput ia kunjungi jika orang-orang itu tertimba musibah.

Apakah karena yang terakhir ini yang membuat kuburnya terang memancarkan cahaya? Entahlah. Tak ada yang bisa memastikan. Tapi bagian akhir laporan koran itu mengemukakan suatu ‘fakta’ penting yang disebut berasal dari ‘sumber yang tak mau disebutkan namanya’ bahwa Hamad di kota sebenarnya membina dan mendampingi anak-anak yatim piatu dan anak-anak jalanan. Menariknya, di kota itu namanya bukan Hamad, tapi Zainuri. Kerja pendampingan itu kabarnya sudah dilakukannya lebih dari 20 tahun. Dan sekarang, menurut laporan koran itu, Hamad alias Zainuri itu sedang membangun sebuah rumah singgah untuk anak-anak jalanan dan sebuah pondok untuk anak-anak yatim piatu. Kedua bangunan itu baru selesai 20 persen dan sepeninggal Zainuri, e maksudnya Hamad, dikhawatirkan kelanjutan pembangunan kedua gedung itu akan terbengkalai.


LAPORAN koran itu betul-betul membuat terkesima para pembaca. Warga kampung itu sendiri menjadi takzim pada Hamad. Tak pernah mereka kira bahwa di kampung mereka ada seorang yang berhati tulus dan kasih sekaligus rendah hati, seorang penderma yang bahkan tangan kirinya pun tak tahu kalau tangannya kanannya itu menderma. Para petinggi dan tokoh agama di kampung itu menjadi malu dan merasa bersalah karena selama ini menganggap remeh Hamad atau orang biasa seperti Hamad. Mereka bahkan sekarang sering jadi salah tingkah. Para petinggi—tidak seperti biasanya—enggan berpanjang-panjang dalam sambutan, malu kalau di antara hadirin ada yang seperti Hamad. Para khatib dan ustad yang biasa memberi nasihat jadi sungkan, khawatir kalau di antara pendengarnya ada lagi orang yang seperti Hamad. Para imam dengan perasaan minder maju ke depan, jangan-jangan, pikir mereka, di antara makmumnya ada orang yang maqam-nya juga setara Hamad. Peristiwa Hamad menjadi pembelajaran hidup buat mereka untuk lebih rendah hati dan menjaga hati.

“Istimewanya Hamad, karena ia bisa menyingkirkan sikap riya' dan ujub dari hatinya,” komentar seorang ulama yang dikutip koran itu.

Setelah laporan koran itu, kubur Hamad semakin banyak diziarahi orang. Siang malam tak henti-henti. Mereka bahkan datang dari luar kota yang jauh sekali.

“Bagaimanapun, para peziarah itu tamu di kampung ini. Kita wajib menyambut dan menjamu mereka sebaik-baiknya,” ucap modin yang secara aklamasi terpilih sebagai ketua panitia.

Sebuah kepanitiaan dengan berbagai seksinya lalu dibentuk untuk mengatur keperluan para tamu peziarah itu. Atas usul seorang tokoh muda yang khawatir dengan kelurusan niat dan tingkah polah para peziarah, selembar papan bertuliskan peringatan: “Silahkan berziarah. Hindari syirik, jangan meminta pada kuburan!” dipancangkan persis di depan pintu masuk kompleks pemakaman.

Lalu, sebuah kotak amal besar terbuat dari kaca tembus pandang diletakkan di depan kubur Hamad. “Hasil kotak amal akan disalurkan untuk meneruskan pembangunan rumah singgah dan pondok yatim piatu yang digagas almarhum Hamad,” demikian tulisan dengan kapur tulis di atas papan hitam kecil di depan kotak amal itu. Dalam sehari, kotak amal itu penuh uang kertas empat hingga lima kali. Dan dalam beberapa minggu, ratusan juta telah terkumpul.

“Saya rasa, sebenarnya kewajiban kita bukanlah untuk menjaga kubur ini, tetapi meneruskan usaha almarhum,” bisik seorang warga kampung.

“Tapi Allah punya cara. Allahu akbar,” kata seseorang, “meski orangnya telah tiada dengan kebesaranNya namun niat tulusnya tetap terus berjalan.”

Dan benar, tak sampai setahun kedua gedung sederhana yang digagas almarhum itu tuntas dibangun plus meja kursi serta seperangkat keperluan alat tulis kantor. Semua uangnya berasal dari kotak amal di depan kubur penuh cahaya itu.

Lalu, beriring dengan itu, cahaya yang sesekali memancar dari kubur itu semakin meredup dan akhirnya tak muncul-muncul lagi. Menyusul itu, jumlah para peziarah pun mulai menurun, dan kian menurun.

“Semoga cahaya itu berpindah ke lubuk hati mereka yang kasih dan tulus,” demikian doa Pak Modin.

Kompleks pekuburan itu pun kini kembali sepi.*