Tuesday, March 22, 2005

Indeks #40, Maret 2005


Model Cantik Itu Bernama Fiksi Islami

Banyak penerbit buku Islam awalnya hanya menerbitkan buku-buku nonfiksi. Kini, dengan daya tarik fiksi islami yang laris manis di pasaran, ramai-ramai penerbit membuat divisi khusus untuknya.

Syir'atuna, Maret 2005

GADIS berjilbab itu sedang membuka-buka majalah. Mimik wajahnya serius. Ada empat bundel majalah yang menumpuk di meja, selain satu bundel yang masih ia baca. Usai dengan satu bundel, ia ambil bundel yang lain. Kadang, di sudut bibirnya nampak senyum tersungging, menunjukkan baris giginya yang putih.

Siti Aminah, alumni Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, ini baru saja diangkat menjadi editor redaksi seksi remaja di penerbit Gema Insani Press (GIP), yang kantor barunya berada di Jalan Ir H Juanda, Kota Depok, Jawa Barat. Sementara kantor lamanya ada di Kalibata, Jakarta Selatan... Lanjutkan


Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra dari Universitas Indonesia
Di Indonesia, Sebutan Sastra Islami Agak Rumit

Syir'atuna, Maret 2005

Karya sastra yang tergolong “fiksi islami” banyak bermunculan. Namun, mengapa kritik “sastra islami” sama sekali tidak terdengar?
Sebenarnya kemerosotan untuk kritik sastra bukan hanya pada karya “sastra islami” tapi juga pada hampir semua karya sastra yang muncul di Indonesia. Khusus untuk kritik sastra yang bernafaskan Islam pada tahun 1970-an itu ramai sekali. Entah mengapa akhir-akhir ini terjadi kemerosotan.

Karya yang digolongkan “sastra islami“ umumnya dimasukkan dalam kategori sastra remaja. Apa yang dilahirkan, misalnya, oleh Forum Lingkar Pena dan majalah An-Nida, pastilah tidak hanya dalam kategori remaja, tetapi label remaja Islam ini yang kemudian seolah-olah memberikan bahwa karya itu karya remaja.

Buat saya label itu tidak kemudian membuat kita tidak mau mendalami karya-karya itu. Persoalannya memang terlalu banyak karya yang muncul tetapi terlalu sedikit yang mengkritiknya. Ini yang menjadi beban diri kritikus.... Lanjutkan


Terhormat Meski Tanpa Jilbab

Najwa Shihab punya prinsip sendiri tentang jilbab. Bagi dia, hati “berjibab” lebih baik daripada sekadar jilbab kepala.

Profil, Maret 2005

TAK SULIT menjumpai Najwa Shihab. Hampir saban hari dia muncul di stasiun MetroTV. Selama kariernya di televisi itu, yang paling mengharukan saat Nana, sapaan karibnya, melaporkan kondisi Aceh pasca-Tsunami akhir Desember lalu. Awal mula dia memberi laporan, meski tampak tegar tapi akhirnya tak kuasa menahan linangan air mata. Nana menangis.

Saat bertolak ke Aceh, 27 Desember, Nana berniat menggelar talkshow Today’s Dialog di sana. Nana, yang juga co-produser program itu, sebenarnya telah mempersiapkan talkshow lengkap dengan krunya. Tapi, karena keterbatasan sarana, hari pertama Nana melaporkan hasil liputannya cuma via telepon. Laporan langsung lewat satelit baru bisa dilakukannya hari kedua.... Lanjutkan


Abu Hanifah dan Para Raja

Pemikiran fikih Abu Hanifah dikenal sebagai kiblat Mazhab Hanafi. Di sisi lain, dalam hidupnya, ia banyak memberi contoh cara menghadapi pemerintah.

Khazanah, Maret 2005

LELAKI itu dikawal masuk istana. Wajahnya yang hitam kemerahan tampak bersih dan semakin cerah berseri dengan sorban berwarna putih menghiasi kepalanya. Di dalam, Abu Ja’far Al-Mansur, khalifah kedua dinasti Abbasiyah, menunggu. Sepertinya laki-laki itu menjadi tamu agung sang khalifah.

Keduanya saling berhadapan. Tak berapa lama Khalifah menyampaikan maksud hatinya. “Wahai Abu Hanifah, demi Allah engkau harus menerima diangkat menjadi qadli,” kata Khalifah. Khalifah sangat yakin Abu Hanifah akan menerima tawarannya... Lanjutkan


Kubur Penuh Cahaya

Kisah, Maret 2005

SEWAKTU ia dikuburkan, hanya sedikit orang yang mengiringi dan mengantarkannya. Ya, itu pun para tetangga dan kerabat dekatnya. Maklumlah, ia hanya seorang kecil yang tak berharta dan tak punya kuasa. Ia sama sekali bukan orang hebat dan terkenal.

Tetapi sehari setelah penguburannya itu, namanya langsung melambung ke seantero desa. Tiga hari setelah itu keterkenalan namanya sudah berhembus melewati batas-batas desa, menembus udara kecamatan, dan lantas masuk ke kantor-kantor, rumah-rumah, dan warung-warung di kota kabupaten. Dan seminggu kemudian, namanya sudah menghiasi pembicaraan warga seluruh propinsi itu. Di pasar dan masjid, orang ramai membincangkannya.

“Siapa sebenarnya orang itu?” tanya orang-orang.

“Kuburnya mengeluarkan cahaya.” Lanjutkan